Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Romantis ( TAK PERLU ADA HARI ESOK )

Sore itu, diatas teras pembatas rumah  ku duduk menghadap jalan raya dan bersandar di dinding. Kusandarkan kepala dan menengadah, ku terawangi senja yang perlahan beranjak seakan melambai padaku. 

Dadaku sesak, seketika itu ingin rasanya berlari, mengayunkan tangan bagai mengepakkan sayap agar bisa terbang menghentikan senja yang berlalu meninggalkan ku, karena ku tak ingin malam menjemput dan mendekapku dalam buaian mimpi-mimpi yang saat terbangun ku temukan diriku terluka karena memendam rasa ku.

Pikiran ku melayang saat kami sedang menyusuri gua berlumpur, licin dan terjal dengan penerangan headlamp yang dia kenakan. Bahkan harus melalui sungai yang agak dalam pada separuh lorong gua. Semantara aku tak bisa berenang, hanya modal keberanian dan mengandalkan tim tuk menaklukkan tantangan goa itu.

Tim kami yang berjumlah 9 orang terdiri dari 3 cewek dan 6 cowok, dua diantaranya leader dan sweeper. Kami mulai menapaki lereng goa mengikuti leader, aku berada pada posisi kedua dari terakhir, di depan kak Althaf yang saat itu sebagai sweeper dan di depan ku ada Assah. Aku berjalan dengan sangat hati-hati, tak jarang hampir terpelest hanya karena salah memilih pijakan kaki. 

Teman-temanku jatuh silih berganti, kali ini aku yang terpeleset ketika menuruni tanjakan yang berlumpur, lalu terperosot dan kaki terbenam dalam lumpur hingga lutut. Semua teman yang di posisi depan sudah tidak terlihat karena belokan, ku menoleh ke kak Althaf, terlihat sedang mencoba mencari cara tuk menolong ku. 

Rasa takut dan panik dah menyerang ku karena jurang menganga di hadapanq, tak ada tempat bertumpuh, hanya cengkraman ku di belakang yang membuat ku tertahan tak jatuh lebih dalam lagi. Kuteriaki Assah namun tak ada jawaban. Kak Althaf meminta ku tuk tenang dan tidak bergerak sedikt pun. Ku perhatikan dia yang sedang mengikatkan webing pada stalagtit lalu turun dan menarik ku ke atas. Ku sedikit lega bisa selamat tapi kaki ku terasa berat dan gemetaran tuk melangkah. 

Aku diam saja menerawang menunggui kak Althaf melepas webing. 
"Ayo jalan !" Dia melangkah, segera ku raih lengannya tuk pegangan karena takut terjatuh lagi. Dia pun tak keberatan, malah tersenyum ke arahku, melihat senyumnya, serasa semua ketakutan dan kepanikan ku tersapu bersih. Kami kembali melanjutkan penyusuran.Setelah melewati lorong gua yang terjal, terlihat Assah, Leader dan teman lainnya duduk di ujung lorong buntu. Kami mendekat, semua memperhatikan kami hingga sorotan headlamp menyilaukan mata kami. 
"Ni, ada apa ?" Assah memberi kode. Aku pun menyadari tanganku masih melingkar di lengan kak Althaf. Buru-buru ku lepas dan menarik jarak. 
"Tumben Thaf kau baik ma cewek, biasannya juga cuek, siapa sich dia ?" Celoteh salah seorang cewek setimku dengan dingin. 

Kak Althaf memegang kedua pundakku "Ini adik ku. Namanya Nini. Anggota baru dengan Assah." Aku tersenyum kaku dan salah tingkah. Ku lihat Assah terbelalak mendengar pengakuan kak Althaf. Aku sendiri lumayan kaget dibuatnya. 

Melihat kami semua diam leader mengangkat bicara menjelaskan bahwa untuk bisa keluar tanpa memutar arah kembali kami harus melewati sungai yang agak dalam di sebelah dinding itu, dia menyorot dinding, terlihat ada cela, tepatnya mungkin stalagtit yang sudah menyerupai dinding karena bagian bawahnya runcing dan masih meneteskan air. "Ada yang tidak bisa berenang ?" Tanya leader. Spontan aku acunkan tangan. "Ngakunya pecinta alam, berenang aja gak bisa. Apaan tuh ?!" Sindir cewek yang tadi. "Nini sama aku aja, jadi tak perlu dipermasalahkan." Kejengkelanku atas sindiran tadi hilang mendengar ucapan kak Althaf. Ku liahat dia mencibir. 

Leader kembali memimpin kami melewati cela. Aku melewatinya mengikuti Assah dan disusul kak Althaf. Aku tinggal berdiri menyaksikan Assah melompat ke air dan berenang menyusuri sungai. "Turun !" Instruksi kak Althaf. Tapi aku masih tetap berdiam di tempat. Dia pun turun, kedalaman air masih sepinggangnya. 

Aku ikut turun dengan ragu-ragu. "Pegang pundakku, ayungkan sebelah tanganmu dan kedua kakimu bersamaan !" Instruksinya setelah aku berdiri tepat di sampingnya. aku mengangguk lalu meletakkan tangan kiriku di pundak kanannya. kami pun mulai berenang. setelah beberapa menit berenang, kami berhenti. "Istirahat bentar !" Pintanya sambil mengarahkan ku berpegangan di dinding goa yang begitu licin, agar dia bisa rileks sejenak. "Eh, kak kok air bergelombang gini ?" Tanyaku heran merasakan hempasan air ke tubuhku. "Aku juga tidak tahu." jawabnya cuek. aku sedikit kesal. Semakin lama hempasan air makin keras hingga peganganku lepas. “Kaaaak...” Teriakku ketakutan dan mengepakkan tangan berusaha bertahan agar tidak tenggelam. berkali-kali ku menelan air. seketika Kak Althaf menarik lenganku, segera ku lingkarkan tanganku di lehernya saat bisa menjangkaunya. Dia berusahan menenangkan saat melihat ku sangat ketakutan. kemudia kami kembali melanjutkan penyusuran. 

Cahaya penerangan kami melebur dengan cahaya tersebut, kami pun mulai berjalan karena air sudah agak dangkal, beberap langkah berikutnya sejajaran perut, sepangkal paha kemudian selutut, bahkan setumit. Namun karena jalanan sangat licin , aku masih berpegangan pada kak Althaf hingga kami bergabung kembali dengan tim. Lalu kami semua keluar dari jangkauan air. “Salam Lestari !” Sontak kami semua menoleh ke sumber suara yang tak jauh di belakang kami dan serentak menjawab “Tetap Lestari !’ “Fiz, punya berapa webing ?” Tanyanya setelah mematikan headlampnya. Terlihat jelas kak Syahran melempar senyum ke arah kami. 

Dia salah seorang dari leader tim lain. “Ada dua. Kenapa ?” sahut leader. Baru kali ini aku tahu kalau dia disapa dengan Fiz. “Boleh ku pinjam ?” kak Syahran berjalan melewati ku. “Boleh, tuh ma Althaf.” Dia menghampiri kak Althaf. Tanpa kata kak Althaf menyodorkan webbing padanya. Dia menyondongkan muka ke dekat telinga kak Althaf lalu berbisik. “Apa gadis kecil ini merepotkan mu ?” bisikannya masih terdengar jelas oleh ku karena aku masih memegangi lengan kak Althaf. 

Spontan ku layangkan tinju ke perutnya. Namun sebelum mendarat, dia segera menangkisnya lalu mmenjitak kepalaku. Aku meringis. “Siapa yang gadis kecil ?!” protes ku dengan cemberut dan meninggalkan mereka berdua. “Jiaah, gitu aja kok ngambek, memang kayak anak kecil beneran !” aku tak menghiraukannya lagi. “Fiz, thanks yach ! Thaf, tolong jagain ade’ ku!” ucapnya sedikit berteriak. “Baik kak.” Jawab kak Althaf. Kak Syahran meninggalkan kami, kemudian kami melanjutkan perjalanan. "Ma aku ngambek juga nich ?" Tanyanya agak berbisik di dekat telinga ku, lalu menyenggol ku. Aku tak menggubrisnya dan terus berusaha melewati bebatuan yg berlumpur. "Heeeih..." dia mencolek pipi ku. Ku rasakan lumpur menempel dr tangannya. Ku masìh tak menggubrisnya, ku bersihkan lumpur tersebut dengan lengan baju ku, seraya mempercepat langkah ku. Tanpa menyadari keberadaannya, tiba-tiba kedua tangannya yang berlumur lumpur telah menempel di pipi ku. Aku terhenti "Huaah rese' !!!" Ku raìh kedua lengannya. Dia terkekeh sambil mengolesi muka ku lumpur. "Ni, buat orang yang suka ngambek." Dia mengoleskannya ke suluruh muka ku. Ku dengar Assah cekikikan. Segerah ku tarik lengan kak Althaf yang masih menempel di muka hinggah menyanggah di pundak ku. 

Tangan kanannya ku jabat tuk mengambil lumpur yg masih melekat, ku putar badan agar bisa melihatnya tanpa melepas peganganku pada lengan kirinya hingga posisinya setengah melingkar di leher ku. "Yang ini lulur tradisional biar kakak jadi lebih tampan." ku terkekeh dan terus melumuri muka serta lehernya. 

Dia hanya pasrah menerima pembalasan ku. "Eh, liat tuh !" ku menengok ke arah yang kak Althaf maksud, terlihat semua teman kami juga ikut-ikutan ngolesin lumpur. Ku kembali menoleh ke Kak Althaf, sempat kami beradu pandang lalu tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi mereka.  Aku jadi tertawa sendiri mengingat hal tersebut, lalu tersentak saBottom of Format "Fly me to the moon" terdengar dari ponsel ku. K'Althaf is calling. Ku pandangi ponselku, aku ragu tuk menjawabnya. 

Kedua kalinya ponselku berdering karena Kak Althaf. Aku masih belum menjawabnya. Ponselku kembali berdering, yang ketiga kalinya K'Althaf memanggil. Akhirnya aku pun menjawabnya.  "Halo" dengan suara pelan dan sedikit gugup."Assalamu Alaikum !" Terdengar suara dari balik telepon. "Waalaikumussalam" Balas ku."Tolong temui aku ! sekarang ku di depan rumah mu." pintanya. Tanpa menunggu jawaban dari ku, telepon terputus.Ada sedikit ragu tuk menemuinya, setelah setahun menjauh dan menutup diri darinya. Air mataku menetes, segera ku hapus, dah terlalu banyak air mataku menetes karena menahan rindu yang menderaku. 

Karena menyesal telah mengabaikannya selama ini. Karena telah mencoba mengubur rasaku padanya. Semua itu telah menguras air mataku. Namun akhirnya ku putuskan tuk menemuinya.Ku berjalan gontai ke luar, ku lihat dia berdiri di dekat mobil membelakangi gerbang. Ku himpun keberanian tuk menyapanya.“Hai kak !” dengan suara trbata-bata, tak percaya dia bener-benar menemui ku.“Ikut sebentar !” dia menarik lengan ku, menuntun ku masuk dalam mobil.Mobil terhenti di taman kota, dia berjalan menuju tempat duduk tepat di tengah taman. Sinaran lampu neon turut menambah keindahannya. Dia duduk, ku juga ikut duduk tepat di sebelahnya.“Ada apa kak ?” ku pecah kesunyian.“Apa ini ?” dia menyodorkan secarik kertas dengan coretan tangan yang tak asing buat ku. Tentunya karena itu tulisan tangan ku sendiri.

Aku ingin berharap lebih, lebih dari yang bisa dia berikan, lebih dari yang bisa ku jangkau. Adakah ini keserakahan ?! Tapi aku benar-benar ingin berharap lebih, jauh lebih dari keterbatasan ku. Namun terkadang seketika keinginan itu sirna hanya karena setitik keangkuhan. Tuk mengakui rasa untuknya.“Bukan apa-apa, hanya sekedar coretan, dapat dari mana ?” ku lipat kertas itu dan hendak memasukkannya dalam saku baju ku. Tapi segera ia rampas.“Tak penting. 

Aku hanya berharap ini untuk ku.” Dia menggenggam kedua tangan ku dan menatap ku lekat-lekat. Ku hanya pandangi dia, mencari keseriausa atas ucapannya dan tak ku temukan keraguan di matanya, tapi aku yang ragu tuk mengakuinya. “Sungguh ! aku juga menginginkannya dan ini bukan keserakahan.” Lanjutnya meyakinkan ku. Ku masih terpaku menatapnya, tak terasa air mata ku meleleh hingga ia menyekanya. Aku tersentak dan kembali menyekanya. Tak satupun kata yang bisa ku ucapkan, ku hanya bisa menganggukkan kepala membenarkannya. Dia mengecup kening ku. Aku memeluknya dengan erat seakan tak ingin melepasnya. “Tak perlu ada hari esok, jika harus tanpa mu lagi” bisiknya dan mempererat dekapannya.

Cerpen Romantis ( SURAT UNTUK KEKASIH )

Maaf, bukan maksudku untuk menjadikanmu boneka dalam kisah ini. Sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Atas nama persahabatanlah aku lakukan semua ini. Bukan maksudku tak menggangapmu ada. Andai saja aku bisa mengatakan semua kenyataan ini. Biarlah gemuruh petir dan derasnya hujan di malam ini yang menjadi saksi. Maaf bukan maksudku merekayasa keadaan. 
Sungguh aku tak bermaksud mempermainkan takdir. Maaf, bukan maksudku membohongi nurani. Hanya saja aku tak sanggup melihat kenyataan. Apakah kau percaya bahwa tiap kisah cinta itu selalu happy ending? Aku tak pernah percaya itu. Adakalanya kisah cinta itu bukan happy ending. Apakah kau ingat kisah cinta Romeo and Juliet atau kisah cinta Laila Majnun? Jadi kau tak perlu khawatir. Tak selamanya kisah cinta selalu berakhir dengan senyuman.           

Apakah kau tahu mengapa aku lebih memilih persahabatan daripada cinta? Pasti kau tahu apa jawabnya. Pengorbanan sahabatku untuk mendapatkan cintamu lebih besar. Aku sendiri yang melihatnya. Saat hujan deras di sore hari, ketika dia mendengar kau jatuh sakit, dia berlari tak meperdulikan hujan dan senandung petir yang bergemuruh. Padahal saat itu, tak ada satu kendaraan umumpun melintas. Dia terus berlari menuju rumahmu yang terletak tidak jauh dari taman kota tempat kita biasa menghabiskan waktu untuk melihat pelangi setelah hujan. Tapi sayang, saat itu kau sedang tertidur lelap dan dia tak berani mengusik alam mimpimu. Apa itu belum cukup untuk membuktikan cintanya? Oh ya, apa kau juga masih ingat ? Saat kau lupa membawa peralatan untuk melukis, padahal waktu itu kita sedang ujian praktek menggambar. Dia yang memberikan semua perlatan melukisnya untukmu.

Dia rela dihukum di bawah terik matahari demi kau. Apa itu semua masih belum cukup?Maaf kalau aku tak pernah melakukan apa-apa demi kau. Karna itu, aku menginginkanmu untuk merajut kisah cintamu dengan sahabatku. Aku yakin kisah itu tak akan berakhir dengan air mata. Aku yakin Romeo and Juliet ataupun Lailai majnun tak akan terjadi pada kisah kalian. Yakinlah kasih! Bukan dengaku kisah itu akan berakhir bahagia. Anggaplah ini semua pengorbanan cintaku untukmu. Biarlah aku sendiri yang merasakan akhir yang menyedihkan. Karna ini adalah pengorbanan dan bukan kekalahan. Kau tak perlu khawatir. Jika kau perduli denganku, pergilah bersamanya dan ciptakan kisah cinta yang indah. Kelak jika waktu mempertemukan kita kembali, ceritakanlah kisah indah itu padaku. Agar aku percaya bahwa masih ada kisah cinta yang berakhir dengan senyuman. Jika waktu tak berpihak, biarlah kisah cinta yang indah itu terlukis pada rangkaian warna pelangi yang akan muncul setelah hujan atau terangkai pada nyayian pipit yang menyambut senyum sang mentari dan bersinar bersama cahaya kunang-kunang di tengah redupnya alam.           

Kasih percayalah, Hujan kemarin sore akan memunculkan pelangi yang keindahannya kekal di hati tiap insan yang memiliki cinta. Tenanglah kasih! Jangan kau pedulikan tangisku karna ini tangis yang akan melahirkan pelangi adi warna. Aku yakin, dengan kelembutan dan kehangatan yang dimiliki sahabatku, pelangi itu akan selalu hadir di hatimu sebagai insan yang memiliki cinta.

SURAT UNTUK BAPAK

Angin berhembus pelan. kabut pagi masih juga menyelimuti jalan. dan satu demi satu air jatuh dari langit. perlahan gerimis mulai membasahi daun dan ranting-ranting pohon. sebagian menembus tanah. tak ada satupun kicauan burung dan kokok ayam jantan yang biasanya mengalun nyaring. pagi ini memang terasa beda, tak seperti biasanya.
wahyu kamu dimana nak.. ibu mu sangat menghawatirkanmu !! dalam hati pak azam.
"pak.. bagaimana hasil pencarian bapak selama ini?? apa bapak menemukan petunjuk???" suara bu Azam terdengar pelan. "pak.. kenapa bapak diam saja, jawab pak.. apakah bapak mendapat petunjuk??""maafin bapak bu'... bapak masih belum dapat informasi mengenai anak kita, tapi bapak akan berusaha, ibu yang sabar.." pak Azam mencoba menenangkan istrinya yang saat ini sedang sakit karena memikirkan wahyu."pak rasanya aku pengen mati saja, aku tidak kuat pak hidup tanpa anak kita."" husstttt... ibu tidak boleh ngomong begitu, pasti bu.. pasti Allah akan memberikan jawaban atas doa kita dan Allah akan membantu kita menemukan wahyu...""tapi kapan pak???... ibu sudah tidak kuat.." potong ibu Azam dengan air mata yang sedari kemaren membasahi wajahnya. "ibu kangen sama wahyu pak, dia anak yang baik, walaupun sering membandel sama ibu. walaupun dulu sering bolos sekolah. dan gara-gara perilakunya ibu juga sering datang ke sekolah, tapi dalam hati ibu, ibu yakin dia anak baik. ibu tahu dia luar dalam. ibu yang mengandungnya dan ibu juga yang membesarkannya sampai sekarang. pak tolong bapak cari anak kita.."" iya bu, bapak janji akan mencarinya"tak lama kemudian suara sepeda motor berhenti di depan rumah."mungkin bunyi motor pak RT, siapa tahu dia mendapat kabar tentang wahyu bu..."Pak Azam segera keluar, tak lama kemudia bu azam menyusul dibelakangnya, walaupun dengan badan sedikit seleotan karena sakit."pak ada surat untuk bapak, tolong tanda tangan disini ya pak.." suara pak Pos sambil menyodorkan surat."iya pak..." jawab pak Azam sambil menandatanganinya."terima kasih'"sama-sama pak...""dari siapa pak..." tanya bu Azam"gak tau bu'...  ayo kita masuk saja bu', diluar dingin... kita baca di dalam"perlahan pak Azam mulai membuka surat berwarna coklat dengan perlahan. di ambil sepucuk kertas di dalamnya dan mulai membuka satu demi satu lipatan kertas itu. betapa kagetnya beliau ketika mengetahui surat itu datang dari wahyu.putranya yang sebulan ini menghilang.ini isi suratnya..............untuk ibu dan bapakBu bagaimana kabar ibu??bapak juga bagaimana ???mungkin kerika bapak membaca surat ini aku sudah tidak bersma kalian lagi...Pak maafin aku. aku tidak bermaksud membuat kalian cemas dan sedih seperti ini. aku benar-benar sudah menjadi anak durhaka.Pak, Bu, mungkin bapak dan ibu bertanya-tanya kenapa aku melakukan semua ini. ibu jangan khawatir wahyu akan menceritakan semua mengapa wahyu melakukan ini.

Cerpen Romantis ( ROMANSA DIATAS AWAN )

Hatinya dirinding ketakutan. Dee ingin mengejar ketakutan itu sampai dia tahu hidupnya masih punya harapan.Langit masih mendung. Bintang belum juga tampak untuk dilihat. Dee mengajakku melintasi padang ilalang, menelusuri jalan becek yang sore tadi diguyur hujan.’’Kita mau kemana?” tanyaku dengan nada heran.’’Ayolah! Ikut aja”.Kakiku mulai kelelahan mengikuti irama langkah Dee. Baru kali ini aku melihat Dee yang penuh semangat. Penasaran membuatku juga bersemangat untuk terus berjalan. ’’Setelah sampai kita akan menemukan keragaman jiwa yang pernah dibungkam oleh kesepian.”Aku bertambah heran. Sesuatu yang dimaksud Dee bukanlah hal yang mustahil untuk ditanyakan. Di perbukitan ini, tidak mungkin ada manusia yang berani naik dalam keadaan seperti ini. Jalannya licin. Batu kecil dan besar menganga, siap memangsa kaki yang menginjaknya. Tidak menutup kemungkinan jka ular juga siap mematuk. Namun Dee membuktikan bahwa dirinya bisa melalui itu. ’’Tolol” umpatku dalam hati. Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi meski semangat itu menggebu. Jari kakiku sudah menjadi korban keganasan batu alam. Sayatan kecil disertai percikan darah membuatku engah untuk melanjutkan perjalanan. Dee melihat luka dikakiku. Dia malah tertawa mengejek.’’Kamu memang gak pernah tahu penderitaan orang lain” ungkapku sembari menahan kesakitan.Dee tak henti mengejekku. Muuuach. Sesuatu mengenai keningku. Perasaanku berubah drastis. Ciuman itu…’’Kita hampir sampai” ucapnya.Aku masih terpaku dengan hadiah yang pertamakali Dee berikan. Dunia ini seakan menjadi perlintasan antara aku dan Dee. Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah sebuah perasaan kosong. Dee telah berbuat apa yang belum aku sangka sebelumnya. Ciuman yang sangat spesial bagiku.Dee manarik tanganku. Dari jarak 15 meter bukit maya sudah terlihat. Kami kembali melanjutkan perjalanan.’’Kamu yakin akan menemukan keindahan setelah ini” tanyaku lagi.’’Bawel. Nanti lihat aja sendiri”.Aku terdiam. Barangkali benar. Keindahan itu sudah hampir tampak. Cahaya gemilang berpijar dari atas bukit maya. Itukah yang dimaksud Dee dengan dunia di atas awannya. Aku tak sabar lagi untuk sampai ke bukit itu. Bersama Dee aku menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang hanya Dee yang tahu keberadaannya. Dan sekarang aku juga tahu. Dee semakin erat menggenggam tanganku. Mendung sudah hilang, berganti gemerlap bintang-bintang. Kami sudah menginjakkan kaki di atas bukit Maya. Dee… kau adalah wanita yang beda.                                                   
* * * *
Di bukit maya, Dee pertamakali bertemu dengan Kinnara*1 . Dia mengajak Dee terbang mengelilingi indahnya surga. Dia juga banyak bercerita tentang seorang bidadari yang ingin keluar dari kungkungan Tuhan. Bidadari itu meminta pada Tuhan agar diberikan satu perasaan, yaitu cinta. Tuhan murka mendengar permintaan bidadari itu. Bidadari tetaplah bidadari yang harus tunduk pada aturan kerajaan Tuhan. Dia tak diberikan perasaan apapun kecuali melaksanakan titah sang raja. Bidadari itu kabur ke dunia. Dia memberontak pada aturan. Lalu, Tuhan mengutuknya menjadi seorang gadis yang malang. Gadis itu terdampar di sebuah bukit yang gersang, sepi, dan jauh dari permukiman. Pertamakali gadis itu tak tahu apa yang hendak dilakukan. Ia menemukan pohon kecil yang tumbuh. Dengan cinta yang dimilikinya, ia memelihara pohon itu.Bertahun-tahun gadis itu berada di atas bukit. Pohon yang dirawat juga tumbuh besar, sehingga dia membuat tempat tinggal di bawahnya. Gadis jelamaan bidadari itu merasakan apa yang dilaluinya di bukit itu terasa hambar. Ia punya cinta, tapi tidak tahu kemana cinta itu tertambat selain kepada tumbuhan. Kembali dia bertanya pada Tuhan tentang takdirnya sebagai manusia. Namun kali ini Tuhan tak mengindahkan permintaannya untuk diberikan seorang yang bisa mendampingi dirinya. Ia tak percaya lagi pada Tuhan. Tuhan pun bertambah murka. Kemudian Tuhan memberikan dua pilihan padanya. Ia kembali ke surga sebagai hamba sahaya atau tetap berada di atas bukit tanpa ditemani seorang manusia. Gadis itu tetap dengan pilihannya untuk tetap tinggal di bukit itu walau dia harus sendiri. Dengan keikhlasan serta resiko yang harus ditanggungnya, ia menghabiskan waktu hidupnya di bukit maya. Cinta yang dimiliki gadis menjelma menjadi gumpalan awan disertai bintang-bintang. Gadis itu oleh penduduk sekitar dinamakan Maya, sehingga bukit itu dinamakan bukit maya. Tiap malam, bukit itu bersinar terang. Tidak semua orang bisa melihat keindahannya, cuma jiwa sepi yang bisa menikmati keindahannya. Begitulah cerita Kinnara tentang perjalanan bidadari kepada Dee.     
* * * *
Kami melepas lelah. Setelah hampir 2 jam berjalan, apa yang ingin ditunjukkan Dee sangat menakjubkan. Tempat menepi dari kegundahan, keresahan, dan perasaan haus akan bersama dengan diri sendiri bisa kutemukan disini.’’Apa yang kamu lihat ini belum apa-apa”, Dee menerawang pada bekas petang yang tersisa. Bulan sabit mulai meninggi. Kabut bergumul dengan alam, memberi hawa dingin bagi kami. ’’Bukit ini masih menyisakan kenangan”’’Dee sering kesini?”’’Tubuhku sudah tidak mengizinkan lagi”’’Maksudmu apa Dee?’’’’Tak ada yang lebih mengerti keadaan ini dari pada diri sendiri”. Kali ini Dee ingin menerjemahkan semua perasaannya. Dee memetik setangkai bunga, dan memberikannya padaku. Bunga itu hampir layu. Aku kembali bertanya pada diri sendiri kenapa Dee tidak memetik bunga yang baru mekar di sebelahnya. Sikap Dee memang membuatku heran. Selama perjalanan dia membuat peristiwa yang kurasa janggal untuk dilakukannya. Dia bukan Dee yang aku kenal. Malam ini sikapnya sangat beda, mulai dari mencium keningku, membuatku kesal, bahkan semangatnya untuk mencapai bukit ini begitu besar.’’Kamu kenapa, Dee?”Dee cekikikan. Benar dugaanku, sikapnya mulai aneh.”Nikmati saja dunia ini. Bukanlah kini semua yang ada bersamaku punya tujuan. Termasuk kamu. Selama masih ada waktu, kita bisa mencapai tujuan itu. Namun sayang, aku sudah tidak punya waktu untuk mencapai tujuanku sendiri.””Kamu itu aneh Dee?”Sambil tertawa ia memegangi kedua pundakku ”Apanya yang aneh. Lihatlah mataku. Air mataku tidak akan mengalir, karena aku masih punya waktu untuk mengenang tempat ini. Setelahnya aku akan pergi.”Gaya bicara Dee semakin ngelantur. Peristilahan yang diucapkannya menambah kejenuhanku untuk berpikir.”Kamu mau kemana? Mati?” ejekku. Dee menertawaiku sambil menepuk pundakku.”Jika kematian terjadi malam ini, aku siap. Mungkin waktuku sudah tidak banyak lagi.”Kami terkesiap oleh hempasan angin. Suara di sekitar kami hening. Kami tidak berbuat apa-apa. Kami duduk berpaku lutut, memandangi alam berjumawa pada keadaan. Aku melihat Dee. Penampilannya yang tomboy kadang membuatku bosan mewanti-wanti untuk merubah penampilan seperti wanita pada umumnya. Malam ini ada cahaya seakan keluar dari tubuh Dee. Begitu terang, mengalahkan semua cahaya di bukit ini.”Dee…”Tiba-tiba tubuh Dee terkapar. Ia pingsan. Wajahnya pucat. Tubuhnya demam. Aku berteriak. Aku mencoba melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan demi menolongnya. Pikiranku langsung tertuju pada tas ransel miliknya. Aku mencari sesuatu di dalamnya, entah itu obat-obatan atau barang lainnya. Dan aku menemukan sebuah bungkusan kecil, sepertinya berisi obat-obatan.”Dee bangunlah.” Ia tak bereaksi. Demamnya semakin tinggi. Aku membuka bungkusan itu, dan ternyata….”Obat ini ??”Aku tidak percaya. Dee mengkonsumsi obat-obatan ini. Obat-obatan yang pernah aku belikan untuk Vivid. Dee mengidap penyakit….!”Arggghhh.. kenapa harus terulang lagi. Kejadian 3 tahun lalu kenapa harus dialami lagi oleh orang terdekatku”.Dengan sisa tenaga yang aku miliki, tubuh Dee kugendong. Aku berlari sekencang mungkin melewati semak, menerobos padang ilalang, dan menghancurkan ranjau-ranjau perbukitan. Dee harus diselamatkan. Sebagai teman dekatnya aku sangat menyesal, karena tidak tahu keadaannya. Apa lagi mengenai sakit yang diderita. Aku ini teman tak berguna. Dee, maafkan aku. Kamu tidak sendiri, masih ada aku yang setia menemanimu. Kita adalah dua insan yang berkarakter sama. Sifat kita introvert. Kita punya dunia sendiri. Dunia yang kita cipta sendiri. Bertahanlah Dee. Kita hampir sampai di permukiman penduduk. Kamu akan baik-baik saja.                                                                                        
  * * *
Dee koma, ia terbaring di ruang Anggrek RS. Cipta Medika. Mukanya pucat. Harapan dan keyakinannya mengecap dalam pusaran tubuh lemahnya. Dia bermain sendiri dalam dunianya. Saya yakin Dee tidak koma, tapi dia menghampiri ruang angannya. Setelah semalam dokter melakukan kolrposkopi*2 , keadaanya semakin membaik. Dua orang pemuda datang membesuk Dee. Aku berada di luar kamar mempersilahkan mereka masuk. Di dalam kamar, ibu Dee sedang menunggu anaknya siuman.”Anda temannya?” sapanya. Aku sedikit kesal dengan sapaannya. Nada bicaranya tidak sopan.”Betul” jawabku sekenanya.Tampak salah satu pemuda sudah akrab dengan keluarga Dee. Dia mungkin punya kedekatan emosinal dengan mereka. Aku cuma bisa menyaksikan dia akrab berbincang-bincang dengan ibunya Dee. ”Siapa dia” tanyaku pada diri sendiri.Aku ingin acuh pada pertanyaanku tentang jati diri pemuda itu. Aku ingin berhenti bertanya, tapi tidak bisa. Mungkinkah aku cemburu pada dia. Tidak mungkin. Aku dan Dee adalah sahabat, tidak lebih. Kedatangan pemuda itu membuat perasaanku risau. Padahal aku tidak punya ikatan apa-apa dengan Dee selain dari pada sahabat bermain dan bercanda.Hidup Dee memang penuh dengan rahasia. Aku mengenalnya baik, dan sampai sekarang tidak bisa mengerti keadaannya. Dee sakit pun aku tidak pernah tahu. ”Dia masih terbaring” ucapnya padaku.”Keadaan yang mengharuskan dia begitu” balasku.”Setahun silam aku meninggalkan dia. Dia begitu spesial bagiku. Kami berbeda. Dee sangat mencintaiku, begitu pula denganku”.”Cinta itu kadang memilukan” ”Ya, karena itu aku meninggalkan Dee. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami karna kami memang berbeda.””Berbeda dari apa?Kamu meninggalkan dia karena sakit kan?””Tepat. Aku tidak mau menjalani cinta jika suatu saat ditinggal mati”.”Brengsek. Kenapa kamu sekarang kesini?”Dia diam. Lorong rumah sakit menjadi ajang adu argumen antara kami.”Semua telah terjadi. Penyesalan tiada arti. Hidup ini adalah pilihan, dan aku memilih untuk seseorang yang lebih kucintai. Aku kesini karena aku masih mencintai Dee”Hatiku langsung bergemuruh. Aku tak menyangka masih ada seorang seperti dia. Meninggalkan kekasihnya dengan alasan pasangannya sakit. Pemuda itu melanjutkan perkataannya.”Dee punya harapan. Dia pernah punya keinginan untuk pergi ke sebuah dunia miliknya. Dunia di atas awan. Semoga kamu bisa memenuhinya.””Dia….Dee sudah pergi ke dunia itu. Sebelum dia tertidur di atas pembaringan. Bodohnya kenapa aku tidak tahu kalau dia mengidap kanker”.”Dee sudah siuman. Dia memanggil namamu” panggil ibu Dee padaku.Aku lekas menghampiri Dee. aku ingin selalu berada di sampingnya. Tangannya bisa bergerak sedikit. Matanya sayu menatapku penuh arti. Dia tersenyum, dan akhirnya tangan itu tak bergerak lagi. ”Dee… kamu tidak akan mati hari ini. Semangatmu untuk bermain di bukit Maya akan mengalahkan sakitmu. Aku bersedia menemanimu bermain di sana, di bukit Maya yang berada di dunia di atas awan.”Air mataku mengalir. Detak jantung Dee semakin melemah. Haru ini bukan milikku saja. Ibu Dee dan pemuda yang meninggalkannya juga merasakannya. Kini, ruangan itu menjadi berkumpulnya hati yang setia bersama Dee. 

Cerpen Romantis ( PANTAI YANG MENJAUH)

Gerimis turun perlahan seiring langkah kakiku keluar dari pintu pesawat menuju ke ruang kedatangan bandara Ahmad Yani Semarang.  Semarangku, betapa aku merindukanmu.
Bulan Desember di kota Semarang, tidaklah semeriah kota Manila. Tidak ada hiasan natal di penjuru kota, tidak ada choir indah yang mengalunkan lagu-lagu natal. Yang ada hanya kesunyian, sesunyi hatiku yang merindukan kota ini, dan semua yang bercokol didalamnya.
Kulihat ke area penjemputan, dari kejauhan kulihat mamaku yang tersenyum bahagia menyambutku.  Si kecil Austin, keponakan tersayangku berlari kencang memeluk tubuhku. Kudekap erat mahkluk kecil ini dalam pelukku, dan semenit kemudian kudengar semua ocehannya tentang kado natal yang sudah dipesannya jauh-jauh hari.
Sore itu, Semarang diguyur hujan. Sambil menyetir mobil, terdengar alunan musik dari radio RCTFM, yang berslogan” radionya orang Semarang”. Ah Semarang, aku begitu merindukan tempat ini. Ada sesak yang hebat di dadaku, saat kusadari aku hanya sendirian didalam mobil ini. Mobil yang sudah sepuluh tahun ini menjadi sahabatku, dan juga saksi perjalananku bersama dia. dan otak ini seolah mengingatkan aku untuk tidak melupakan, alasanku kembali ke Semarang saat ini.

14 Maret 2001, Astro Cafe
“Hi...”
“Hi juga..”
“Temannya Indra ya??” kata nya padaku.
“iya, kenapa emangnya?”
“enggak papa..aku juga temennya Indra kok” sahutnya santai.
“oo..ya udah kalau gitu” sambungku cepat, untuk menutup pembicaraan singkat itu segera.
Huh, pasti dia adalah satu dari sekian cowok yang ingin mencoba mendekatiku, pikir hati kecilku. Setelah perselingkuhan Denny, rasanya lebih senang untuk berteman dulu dengan diri sendiri. Aku tidak siap membuka hati ini lagi untuk terluka.
“Kenalin, namaku Bayu” katanya dengan percaya diri.
Aku hanya menjabat tangannya sambil lalu, dan kembali menghisap dalam rokok sampoerna merahku.
“Nama kamu siapa?” sambungnya lagi
“penting ya, namaku siapa?”
“ya sudah, kalau gitu kasih aja nomer telponmu, kalau gak mau ngasih nama” katanya sambil tertawa.

“loh..nama aja aku gak merasa perlu ngasih, kenapa juga aku harus kasih nomer telponku”, ujarku lagi dengan ketusnya.
“ealah..sadis banget jadi cewek!” ujarnya tajam
“Suka-sukaku lah..apa urusanmu? Kalau mau tau nama dan nomer telponku tanyalah sama Indra”
“gak usah deh..gak dapet juga gak papa, sombong banget kamu!”
Aku tersentak seketika, dan menyadari mungkin aku sudah kelewatan. Bisa saja kan dia hanya ingin berkenalan dan menjalin pertemanan. Merasa kurang sopan, aku pun meminta maaf padanya.
“Bayu..sorry ya..aku Cuma lagi bad mood aja, gak bermaksud sombong”
“Aku April..ini nomer telponku..08156542980”
“hmmm...bad mood ya? Pantesan ngerokok terus!”
“iya..aku gak terlalu suka dugem begini, tapi Indra maksain aku kesini tadi”.
“Ya udah..pulang aja kalau gitu kamu..daripada gak enjoy” ujarnya singkat
Benar juga katanya, untuk apa aku berada di tempat yang tidak membuatku nyaman. Kenyamanan yang aku butuhkan saat ini, dan tempat ini benar-benar membuatku tidak nyaman.
Setengah merajuk aku mengajak Indra pulang, dan wajah cemberutnya menemani perjalanan pulang kami. Di dalam mobil, aku baru menyadari aku bahkan tidak mengucapkan pamit pada Bayu yang sudah memberikan saran bagus. Bodoh!!
Setelah mengantarkan Indra kembali ke kos-nya, aku memarkir mobilku di depan Alam Indah dan menghabiskan sisa malamku memandang kota Semarang dan menulis dalam sepi. Ah betapa nikmatnya suasana ini pikirku.
***************
Dua hari berlalu sejak malam itu, dan aku kembali sibuk dengan segala tugas-tugas kampusku. Laporan praktikum yang sudah dua hari tak tersentuh, ujian mid-semester yang menunggu didepan mata, benar-benar sibuk.  
Bayu dan aku saling mencari sejak malam itu. Dimulai dengan sebuah pesan singkat darinya yang berisi “Selamat pagi Cantik....” kami mulai mengenal satu sama lain. Diantara segudang kegiatanku sebagai mahasiswa Elektro tingkat satu Universitas Diponegoro , ada sosok Bayu yang menemaniku. Bayu ternyata seorang pemain basket dari klub lokal Semarang. “not bad” pikirku, pasti lah dia anak orang kaya dan banyak duitnya, pikir otak mudaku lagi.
Gairah mudaku bergejolak. Idealismeku tentang sosok pengganti Denny yang tajir, mobilnya keren, anak pengusaha pula, rasanya terpenuhi dengan hadirnya sosok Bayu, yang menurutku lebih keren.
***************
28 Maret 2001...
“ Kring....” telpon rumahku berbunyi.  
Terdengar suara Bayu diseberang sana. Ah aku mulai malas dengan kegiatan saling menelpon ini. Sudah seminggu ini kami saling menelpon dan berkirim pesan singkat. Aku bahkan sudah lupa seperti apa wajah Bayu.
“lagi ngapain kamu April?”
“lagi ngerjain tugas”
“oo..mengganggu gak nih aku?”
“enggak juga seh..Cuma aku males telponan kaya gini”.
“loh..kenapa memangnya? Gak suka ya aku telpon”
“bukan gitu Bay, aku cuma males aja ngobrol gak keliatan mukanya” sahutku dengan malas.
“oo..gitu ya..aku gak berani dateng ke rumahmu”
“besok-besok aja ya kita ketemuan” sahutnya lagi dari seberang sana.
Semakin jengkel aku mendengar jawabannya yang selalu sama. Takut mendatangi rumahku. Tiba-tiba rasanya aku ingin sekali mengutarakan apa yang aku pendam selama ini. Dan aku pun tanpa basa-basi melakukannya.
“Bay...”
“iya..ada apa?”
“Gini aja deh..nanti malem ada inagurasi fakultas Hukum, dan aku mau kesana.” Kataku
“oh ya? Lalu maksudnya apaan neh?”
“Gini deh, kalau kamu masih mau terus berhubungan sama aku, mendingan kita pacaran aja deh, kalau gak mendingan kamu gak usah cari-cari aku lagi deh. Aku males ah..gak jelas gini” kataku dengan penuh percaya diri.
“hah?? Maksudmu kita jadian? Pacaran gitu?”
“Iya, tapi kalau gak mau ya udah..ga papa juga” kataku mulai khawatir cintaku ditolak.
“eh..April..ini kayanya aku harus pergi deh sekarang,..udah dulu ya”
“KLIK..” bunyi telpon yang terputus diseberang sana.
Ohhh..tidakkkkk...betapa malunya hatiku. Rasanya tulang tulang badanku ingin lepas dari tempatnya. Aku ditolak mentah-mentah. Ah dasar sialan Bayu, pikirku geram.
***************
Malam itu, di pelataran kampus UNDIP bawah, aku datang bersama teman-temanku. Kudengar didalam auditorium suara TOFU yang menyanyikan lagu hits-hits mereka.
“Sudah lupakan saja, semua cerita yang tlah lalu..anggap tak pernah ada sesuatu antara kita berdua”
Huh..dengerin lagu itu, bikin aku tambah emosi dan bete.
Saat sedang nongkrong bersama Rika, Negros dan beberapa teman kampus lainnya, hapeku bergetar. Dilayar terlihat sebuah pesan masuk dari Bayu. Aduh ada apa lagi nih, pikirku sebal.
“Kamu dimana April? Aku lagi di belakang lapangan basket” isi pesan singkat itu.
“aku di dalam auditorium” balasku singkat
“ketemuan yuk disini”
“ok.. 5 menit lagi ya” balasku.
Aduhh..apa yang harus aku jelaskan pada Bayu nanti, kalau dia menyinggung tentang percakapan kami di tepon sore tadi. Mampuslah aku! Keringat dingin dan deg-deg an aku tiba-tiba. Ruangan Auditorium yang panas, membuat aku semakin keringatan.
Dengan pasrah dan menahan malu, aku pergi menemui Bayu di belakang lapangan Basket UNDIP. Kulihat dia sedang duduk di pinggiran lapangan, dengan celana pendek hitam dan kaos Converse nya. “Aduh..matilah aku”  pikirku.
“hi..sini lah duduk dekatku” katanya sok baik dan cool.
Aku pun duduk di sebelahnya dan kami terdiam sekian lama. Sunyi!! Tidak ada pembicaraan yang hangat seperti hari-hari kemarin. Benar-benar sunyi.
“ Kamu kenapa?” katanya memecah kesunyian
“gak kok..ga ada apa-apa”
“loh..trus kenapa diem aja dari tadi..kok gak cerewet kaya biasanya?” ujarnya sambil tersenyum
Ihhh..manusia ini emang ga punya perasaan. Emangnya dia gak sadar ya dia baru aja nolak aku. Kok aku disuruh cerewet. Maksudnya suruh marah-marah gitu?? Teriak hati kecilku
“dasar gak punya perasaan...lagi mabok ya kamu, nyuruh aku cerewet disini”
“ eh orang yang kamu bilang mabok ini, sekarang pacarmu loh” ujarnya singkat dan tetap SOK cool.
“hah?? Maksudnya?? Jadian kita” kataku terkaget-kaget.
“ya iyalah..kalau ga ngapain aku kesini sekarang, mendingan aku nongkrong ama temen-temenku lah” katanya.
Ihhh..sok banget manusia satu ini, pikirku.
“ow gitu ya..tapi beneran kan kamu ga lagi mabok? Atau ngigau gitu?” kataku lagi
“apa sihhhhh....dasar anehhh” katanya!
“enak aja anehh..kamu lah yang aneh..kok aku”
Tiba-tiba bayu memberikan kelingkingnya padaku, dan berkata
“ Aku beneran suka sama kamu dan ayo kita pacaran. Mari berjanji gak saling melirik kanan kiri lagi mulai sekarang ya” katanya
So sweeeeettt, pikirku dan aku pun mengulurkan jari kelingkingku dengan senang.
“Janji..” kataku mantab!
Saat kelingking kami bersentuhan, baru aku menyadari..aku belum bertanya dia naik mobil apa?? Aduhhhh....gawat nehh pikirku.
“Bay..kamu naik mobil apa motor?”  
“Aku naik motor”
Ah mungkin saja dia lagi pengen naik motor malam ini dan meninggalkan mobilnya dirumah, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
“oo...tapi mobil ada kan?” kataku lagi
“ya ampun April...boro-boro mobil, motor aja Cuma satu..butut pula” jawabnya cuek
Tidakkkkkkkkkkkkk....teriak hatiku..matilah aku. Ahh..BODOH!! aku terlalu cepat bilang iya,sekarang pusing sendiri aku dibuatnya.
Dengan kekhawatiran tingkat tinggi, aku bertanya lagi.
“ Sebutut apa motormu?”
“Kamu tau gak, motor bebek tahun 70 an..yang warnanya merah dan bentuknya aneh?” katanya
“gak tau” jawabku lemas
“itu tuh, yang depannya cembung trus warnanya merah dan kecepatannya Cuma 20 km/jam?” ujarnya lagi
Sialllllllll...batinku...aduhhh...gimana dia mau boncengin aku ya? Pikirku. Dengan badanku yang terlalu sexy alias sedikit montok ini, aku takut ban motornya kempes!
“ah..yang bener ah..aku gak mau ah” kataku
“sekarang kalau mau jalan, pake mobilku aja deh, gak mau aku naik motormu”. Kataku lagi
“halah...udah lah dibahas besok-besok aja..aku Cuma pengen happy sekarang” katanya lagi
“ehhh..tapi beneran lho aku gak mau naik motor bututmu itu” kataku setengah teriak.
“iya..iya...ya udah kalau gitu..masuk yuk” katanya lagi
Dengan cepat dia menarik tanganku, dan kami bergandengan masuk ke dalam auditorium dan menikmati sisa malam itu.
Bodo amat lah masalah motor itu, yang penting sekarang aku dah punya pacar aja dulu. Biar Denny tau aja..emang Cuma dia doang yang bisa move on.
Malam itu, kami larut dalam kegembiraan. Ternyata Bayu sangat lucu dan selalu menggodaku. Sebentar-sebentar dia bilang.
“non,...pulang yuk naik motorku?”
Dan aku hanya bisa berteriak
“ogahhhh...ga mauuu..sorry...bisa ancur reputasiku”.
Herannya dia cuek cuek aja, malah tertawa terpingkal-pingkal sambil sambil terus menggodaku. Malam itu adalah awal perjalanan percintaan kami yang penuh liku selama 9 tahun.

Cerpen Romantis ( MENJAGA HATI )

"Mi, ayo cepat ikut aku", ajak Tiar tiba-tiba sambil menarik tanganku untuk segera beranjak dari duduk ku. "Kemana?", tanya ku bingung, sambil mulai beranjak untuk berdiri. "Ikut saja", kata Tiar yang terdengar bagaikan perintah di telingaku.

Ku ikuti langkah Tiar yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. "Ada apa Tiar?", aku pun bertanya karena tak kuat menahan penasaran oleh tingkah aneh sahabatku itu pagi ini. Tiar tak menjawabku, malah langkahnya semakin cepat menuruni anak tangga menuju lantai dasar.

Tiar berjalan terus dan akhirnya berhenti di parkiran. Aku masih merasa bingung, dan kembali bertanya kenapa aku diajak ke tempat ini. "Lihat itu!", Tiar berbisik kepada ku sambil menunjuk tangannya ke ke dua orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengan asik. "Memang kenapa dengan mereka?", tanyaku semakin tidak mengerti. "Kamu lihat yang memakai kemeja abu-abu itu, dia Ditho, Mi", jawabnya. "Ditho siapa?", aku semakin tidak mengerti.
 "Pangeranku kembali", terang Tiar yang membuat aku semakin tak mengerti. Ku lihat raut wajah Tiar sangat khusuk memperhatikan laki-laki yang dia sebut pangerannya tersebut sampai akhirnya laki-laki itu menaiki mobilnya dan keluar dari pelataran parkir."Oh, God!", si hitam kumat lagi, dia berhenti tiba-tiba tanpa aku sendiri tahu apa sebabnya. "Bagaimana ini?", gumamku sambil melihat cakrawala sore telah menampakkan sinar kuning keemasannya menuju pekatnya malam. Ku dorong sepeda motorku itu perlahan-lahan menyusuri jalan A.Yani. dan tiba-tiba, "Perlu bantuan?", ku dengar suara yang keluar dari sebuah sedan biru yang menghampiriku.Kucari wajah darimana suara itu berasal, "Ya ampun, Ditho???", tanya ku sambil terbelalak melihatnya wajah pangerannya Tiar di parkiran pagi tadi ada di depanku sekarang.

"Kamu kenal aku?", Ditho bertanya heran kepadaku. "Ya, kamu temannya Tiar kan?", jawabku sambil balik melontarkan tanya kepadanya. "Tiar? maksudnya?", kulihat raut bingung yang terpancar dari muka yang cukup tampan itu. Akhirnya, kita sedikit berbincang-bincang, sambil ku lihat Ditho berusaha memperbaiki si hitam. "Kenapa Ditho tidak mengenal Tiar?", gumamku dalam hati menyimpulkan dari perbincangan kami itu.

Sampai juga aku di kost-an ku, "Untung saja ada Ditho", gumamku sambil merebahkan tubuhku yang terasa penat di tempat tidur. "Pikiranku kembali melayang ke Tiar, "kenapa Tiar menyebut Ditho pangerannya sedangkan Ditho sendiri tidak tahu siapa dia?", dan pertanyaan itu ternyata menjadi penutup pemikiranku menghantarkan ke dunia bawah sadarku malam itu.

"Hello Ladies!!", suara cempreng Tiar memecahkan konsentrasi dari pekerjaanku. "Makan siang dulu yuuk, dah jam dua belas lewat neeh...", ajaknya. "Oke deh, kemana kita?", tanyaku pada sahabatku yang rada centil ini. "Martabak HAR aja yuuk, kangen neeh", jawabnya sambil tertawa-tawa.

Akhirnya, sampai juga kami di Rumah Makan Martabak HAR yang berada tepat di depan Masjid Agung Palembang ini. Baunya yang sedap, membuat kami tak sabar menantinya tiba di hadapan kami. Sambil menunggu, kami menghirup teh botol yang telah kami pesan dahulu sambil mengobrol. "Hai Ami!", kami dikejutkan suara laki-laki yang telah ada di depan kami itu. "Boleh gabung?", tanya Ditho sang empunya suara yang di jawab dengan anggukkan pelan kami berdua.

"Kenalkan, aku Ditho?", suara Ditho memecahkan keheningan yang terjadi sambil mengulurkan tangannya kepada Tiar. "A..Aku Tiar...", sambut Tiar dengan terbatah-batah. "Tiar?", nada suara Ditho bertanya sambil melirik ke arahku. "Iya Tiar, yang aku ceritakan kemarin", jawabku dengan sedikit bingung dengan situasi yang berlangsung ini.

Sambil menikmati Martabak HAR yang telah terhidang, aku memperhatikan gerak-gerik Tiar yang sangat tidak biasa itu. "Kemana tenggelam cerewetnya sahabatku itu?" tanya ku dalam hati.

"Mi, kamu kenal Ditho?", tanya Tiar ketika dalam perjalanan pulang ke kantor. Aku kemudian menceritakan kejadian kemarin sore kepada sahabatku itu. "Kenapa Ditho tidak mengenal mu Tiar?", akhirnya aku menanyakan juga pertanyaan yang sudah lama sekali ingin kutanyakan kepada sahabatku itu. Kulihat Tiar hanya tersenyum sambil melihatku mengemudikan baleno putihnya itu.

"Aku mengenal Ditho dari kuliah dulu Mi, kita beda fakultas", Tiar akhirnya bersuara setelah beberapa menit kita terhanyut dalam keheningan. "Hubungan kami sangat indah, Mi kita berniat untuk segera bertunangan setelah wisuda. hingga akhirnya ketika saatnya kita diwisuda, aku mendengar kabar kalau Ditho mengalami kecelakaan, dia tak pernah datang di hari wisudanya Mi. Aku langsung menuju rumah sakit setelah acara wisuda-an selesai. Tiga malam aku dan keluarga Ditho menungguinya koma di ruang UGD, sampai akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan operasi karena ada pembuluh saraf di kepala Ditho yang ternyata menjadi penyebab koma nya tersebut. Tapi, kita diberi pilihan yang sulit Mi, kata dokter kalau operasi pebuluh saraf tersebut dilakukan, dapat menyebabkan sebagian ingatan Ditho akan terhapus. Tidak ada pilihan Mi, akhirnya kita melakukan apa yang disarankan dokter", jelas Tiar. Kulihat air mata yang menetes di wajah sahabatku itu.

Satu minggu kemudian, Ditho akhirnya sadar dari komanya. kami semua senang, tapi ternyata apa yang dokter katakan ternyata terjadi, Ditho tidak mengenali kami. Dia histeris Mi, dia shoke sekali pada saat itu. Kulihat mama hanya bisa menangis melihat keadaan anak laki-laki satu-satunya itu. Satu tahun kemudian dari kejadian itu. Ingatan ditho sudah mulai terbangun. Tapi sayang ternyata kenangan ku dengannya tak ada satupun yang melekat di ingatannya. Walau mama sudah juga berusaha untuk membantu Ditho mengingatku, tapi semuanya nihil Mi. Sampai akhirnya Ditho memutuskan untuk melanjutkan pengobatannya ke Jepang.

Aku sangat mencintai Ditho Mi, aku akan selalu menunggunya sampai ia bisa mengingatku. Hanya dia pangeranku.... dan sekarang dia telah kembali Mi setelah dua tahun aku menantinya kembali dari Jepang.

Aku tak bisa berkomentar lagi, kulihat sahabatku itu sudah menangis terisak-isak, dan lirih Lagu Menjaga Hati dari Yovie and the nuno dari radio menghanyutkan kami dalam kebisuan dan pemikiran kami masing-masing sampai akhirnya tiba di kantor.

Cerpen Romantis ( MAHKOTA EDELWISE)

“Kalau sudah besar, aku mau nikah sama kamu,” kata-kata polos itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Kevin. Matanya memandang lekat ke arah gadis kecil di sampingnya.
Nadin tertegun. Tangannya yang tadi sibuk menyisir rambur barbie menggantung di udara. “Aku nggak mau nikah!” putus Nadin, lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
Kevin ngambek mendengar penolakan Nadin. Bibirnya mengerucut. “Kenapa?” dengan paksa Kevin menarik tangan Nadin, meminta perhatiannya.
Nadin kesal dipaksa-paksa seperti itu. Dihempaskannya tangannya sampai sisir di tangn kanannya terlempar. “Aku nggak mau nikah! Aku nggak mau kayak ayah sama bunda yang selalu bertengkar, lalu akhirnya berpisah. Aku nggak mau kayak bunda yang setiap malam selalu nangis gara-gara ayah. Puas!”
Kini giliran Nadin yang ngambek. Kevin kelimpungan bagaimana caranya membuat Nadin kembali tersenyum. Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk membujuk Nadin. Pandangannya tertuju pada segerombolan bunga edelweis. Dipetiknya satu bunga yang menurutnya paling cantik.
Nadin membuang mika saat Kevin menyodorkan bunga ke hadapannya.
“Kamu tau nggak, ini namanya bunga edelweis...”
“Aku tahu!”jawab Nadin ketus. Dia merasa dianggap bodoh tidak tahu nama bunga yang sudah dikenalnya sejak kecil itu.
Melihat respon Nadin, Kevin jadi salah tingkah. “Maksudku, kamu tahu nggak, kalau edelweis juga disebut bunga keabadian.”
Nadin mulai tertarik. Bunga keabadian? Pelan-pelan dia menghadapkan wajahnya ke arah Kevin.
Kevin girang dalam hati melihat Nadin tidak secuek tadi kepadanya. “Jadi gini, orang-orang menyebut bunga edelweis adalah lambang keabadian, karena b unga ini nggak akan layumeski disimpan berapa lamapun.”
“Meski dipetik?”
“Meski kamu memetiknya dan menyimpannya tanpa akar.”
Nadin mengambil edelweis dari tangan Kevin. Diamatinya bunga mungil itu. “Cantik,” gumamnya.
“Aku punya yang lebih cantik dari itu,” Kevin meraih sesuatu dari punggungnya. Mata Nadin berbinar melihat apa yang ada di genggaman Kevin. Sebuah mahkota mungil yang terbuat dari sulur-sulur tanaman dengan hiasan bunga-bunga edelweis yang diselipkan di antaranya.
Mulut Nadin ternganga tapi tak mampu mengeluarkan satu katapun. Kevin meletakkan mahkota yang telah dibuatnya sepanjang malam itu di atas kepala Nadin. Senyum puas tersungging di wajahnya.
“Selama kamu masih menyimpan mahkota itu, selama itu pula aku akan terus bersama kamu. Nggak akan pernah ninggalin kamu...”

“Aduh, sampai kapan sih kamu terus mandangin Kevin sama Putri jalan bareng sementara kamu yang sobat kentalnya Kevin nggak pernah berani ngomong cinta?” cerocos Ersa saat istirahat di dalam kelas yang hanya ada mereka berdua.
“Hah? Maksud loe?” Nadin kegap merasa dituduh seperti itu.
“Aduh, Say, kamu pikir selama ini aku nggak tahu kamu diem-diem ada hati sama Kevin?”
“Aku masih nggak ngerti.”
“Nggak usah pura-pura bego’ deh. Langsung samperin si Kevin, bilang cinta ke dia. Dan aku yakin, Putri akan langsung ditendangnya jauh-jauh.”
Nadin menghembuskan napas berat. Menyadari tak mungkin menyembunyikan sesuatu dari Ersa yang sudah mengenalnya luar dalam itu. “Nggak mungkin lah, Sa. Kevin itu cinta banget sama Putri. Kalau aku ngomong jujur ke dia, yang ada malah persahabatanku sama dia terancam bubar.”
“Tahu dari mana kamu kalau Kevin beneran cinta sama Putri?”
“Kevin sendiri yang cerita ke aku. Tiap kami jalan bareng, yang diomongin Putri, Putri, mulu.”
“Ye, itu elonya aja yang bego’. Kevin kayak gitu kan buat manas-manasin kamu aja. Kamu juga sih yang terlalu kaku sama Kevin. Sok jual mahal lah, sok mentingin pelajaran lah.”
“Aku emang menomorsatukan sekolah kok.”
“Iya, tapi bukan berarti nyuekin sobat kamu sendiri kan. Giliran dia pergi aja, kamu kelimpungan mencarinya.”
Siaul. Bener banget sih!
Nadin sendiri tidak tahu siapa duluan yang berubah. Tiba-tiba mereka dewasa dan sibuk dengan rutinitas masing-masing. Saat mereka SMP, dia merasa Kevin masih miliknya. Hanya ada mereka berdua dan tidak ada orang lain dalam obrolan mereka. Tapi Nadin peempuan. Perkembangan hormonnya tumbuh lebih cepat. Dia ingin lebih diperhatikan. Dan caranya menarik perhatian Kevin adalah dengan marah. Itu yang biasa dia lakukan sejak kecil. Saat Nadin marah, entah karena dirinya atau sesuatu yang lain, Kevin akan mati-matian mencari cara agar Nadin kembali tersenyum.
Tapi lama-lama jurus itu tak lagi ampuh. Kevin mulai bosan dengan sikap Nadin yang gampang ngambek. Setiap Nadin menunjukkan gelagat akan marah, Kevin langsung kabur. Lebih dari itu, Kevin sering membicarakan teman-teman mereka, khususnya cewek-cewek.
“Tau nggak, Nad, si Lala itu cantik banget ya. terus si Meggie itu, wuih, kalau senyum manis banget. Monic juga, udah cantik, pinter lagi, bla... bla... bla...”
Nadin kesal. Ternyata bukan hanya dia seorang satu-satunya cewek di mata Kevin. Ada Lala, Meggie, Monic, dan cewek-cewek nggak jelas lainnya. Setiap kali Kevin menyebut nama cewek-cewek itu, Nadin akan langsung kesal. Kevin yang tidak tahu penyebab Nadin marah membiarkan sahabatnya itu pergi begitu saja.
Tidak ada lagi permintaan maaf. Tidak ada lagi rayuan. Tidak ada lagi bunga edelweis...
Nadin kesal bukan karena cewek-cewek yang disebutkan Kevin. Tapi dia merasa Kevin telah melupakan janji masa kecilnya untuk selalu bersama Nadin. Apakah janji itu tak pernah punya arti? Seperti rengekan bayi yang langsung lenyap begitu disodori lilypop? Atau, Kevin memang masih memegang janjinya? Buktinya mereka masih bersama kan? Kevin dan Nadin masih berangkat dan pulang sekolah bareng. Masih sering menghabiskan waktu luang bersama. Tapi tak pernah lebih dari itu...

“Ini satu-satunya kesempatan kamu,” Ersa menyodorkan selembar pamflet di meja yang di duduki Nadin. Nadin membaca judulnya: PROMNITE PARTY
“Maksudnya?”
“Ya elah nih anak. Ya kamu ajak Kevin lah buat jadi pasangan kamu.”
“Kevin pasti ngajak Putri.”
“Nggak bakal. Di sini persyaratannya cewek yang harus ngajak cowok.”
“Apa bedanya coba. Toh itu cuma buat seru-seruan aja. Lagian kalau hanya gara-gara persyaratan konyol itu Kevin nggak bisa ngajak Putri, Putri yang akan ngajak Kevin.”
“Taruhan, Putri nggak akan ngejatohin harga dirinya untuk ngajak cowok duluan.”
“Jadi maksud kamu, aku tipe cewek yang nggak punya harga diri, gitu?”
“Bukan gitu, Say. Nih anak sensi banget sih. Maksud aku tuh, kalian kan udah lama berteman, jadi nggak ada gengsi-gengsian lagi dong. Tinggal membuat obrolan ringan, lalu ajak deh,” Ersa menaik turunkan alisnya. Merasa idenya ini brilian sekali. Urgh!
“Nggak!” tegas Nadin. Gila aja nurutin idenya Ersa. Mending nggak usah dateng sekalian ke acara dansa-dansi nggak penting kayak gitu.
Tapi ternyata Nadin salah. Tiga hari menjelang acara promnite itu, seluruh teman-temannya heboh membicarakannya. Mulai dari curhat belum nemuin pasangan yang pas, masalah gaun warna apa yang pantesnya dipakek, sampai janjian ke salon jam satu siang padahal acara baru akan dimulai pukul delapan malam. Helo... emang mau operasi plastik ya? heboh banget.
Dan sialnya hanya Nadin seorang yang berpikiran jelek tentang promnite. Teman-temannya malah berbalik menghina saat dia memaparkan betapa tidak pentingnya pesta dansa.
“Halah, Nad, jangan mentang-mentang nggak ada yang mau kamu ajak, nggak perlu sewot gitu kan.”
“Nadin, kamu tuh sebenarnya cantik. Tapi kamu terlalu kutu buku.”
Itu masih mending, ada hinaan yang lebih sadis. “Nadin nggak suka cowok ya?” jedieng! Nadin langsung mati gaya.
Tentang Kevin, dia hanya pernah sekali membahas soal promnite saat mereka pulang sekolah bareng. “Nad, temen-temen pada heboh ya membahas masalah promnite. Mungkin karena ini pesta dansa baru pertama ini diadain di sekolah kita kali ya. kamu kepikiran buat dateng nggak? Udah ngajak cowok belum?”
Nadin diam, tak menanggapi omongan Kevin. Kevin lalu menyingkap rambut yang menutupi telinganya. “Ya, pakek headset, pantesan aku dicuekin,” Kevin lalu mempercepat langkahnya.
Sebenarnya Nadin mendengar jelas setiap kata yang diucapkan Kevin, karena tidak ada satu lagupun yang dia putar. Itu hanya kamuflase karena Nadin sebenarnya tidak ingin mendengar cerita Kevin kalau Putri trlah mengajaknya ke pesta dansa itu.

Kevin meraih hpnya yang berdering, “Yap?”
“Kevin, nanti malam kamu mau pakek baju warna apa?” terdengar suara nyaring Putri di ujung telepon. “biar aku bisa samain warnanya sama gaun aku.”
“Baju? Buat apaan?”
“Aduh, Sayang, kamu lupa ya? pesta dansanya kan ntar malam. Jangan-jangan kamu juga lupa buat nyiapin kostum ya?”
“Lho, emang kamu ngajak aku ya? Kapan ngomongnya?”
“Kamu gimana sih? Tentu aja aku akan pergi ke acara promnite sama kamu, kamu kan cowok aku. Nggak usah aku ajak pun udah pasti kan.”
“Tunggu, tunggu. Cowok? Kapan jadiannya?”
“Kamu nyebelin banget sih. Emang pacaran harus nunggu tembak-tembakan dulu ya? kita kan udah sering jalan bareng. Aku pikir selama ini kita...”
“maaf, Putri. Kayaknya kamu salah ngerti deh. Aku aja baru mau PDKT. Jadi kita belum pacaran.”
“Kamu jahat ya, Kev. Tau gini kemaren aku trima ajakannya Dion,” Putri menghentikan ucapannya sebentar. “Udah deh, batalin aja niat PDKT kamu itu, toh aku nggak bakalan nrima kamu!” tut... tut... tut...
Kevin tertegun, kaget juag denget Putri bisa ngomong kasar kayak gitu. Dia memandang ke jam dinding di kamarnya. Beberapa jam lagi pesta dansa di sekolahnya akan dimulai. Dan Kevin sama sekali tak mempunyai rencana. Sebenarnya ada satu cewek yang dia harap akan mengajaknya. Tapi seeprtinya cewek itu tak tertarik.
“Tapi aku hanya punya kesempatan malam ini saja,” putus Kevin akhirnya. Diraihnya kunci motor lalu melesat ke luar rumah.
Nadin kaget saat membuka pintu dan menemukan wajah Kevin di sana.
“Kamu mau kan jadi pasanganku di promnite?” todong Kevin seketika.
Nadin hampir kesedak, tapi dia berusaha memasang wajah tetap cool, “Bukannya diperaturannya cewek yang harus ngajak cowok ya?”
“Hah, persetan dengan peraturan. Kamu mau kan?”
Ingin sekali Nadin bersorak ‘aku mau’, tapi ego membuatnya menelan kata-kata itu. “Aku nggak punya gaun,” katanya datar.
“Sudah kuduga,” Kevin lalu memberikan bungkusan ke tangan Nadin.
“Ini...”
“Aku kasih waktu setengah jam, buruan dandan,” Kevin mendorong punggung Nadin agar masuk ke rumah.
Nadin sendiri baru menyadari kalau pakaian Kevin sudah sangat rapi, “Lima belas menit,” teriaknya.

Kevin tertegun. Dia seperti melihat kembali gadis kecil teman mainnya dulu. Dia berdiri di hadapan Kevin, mengenakan gaun ungu muda selutut dan di kepalanya terdapat mahkota dengan hiasan bunga-bunga edelweis. Hanya saja sekarang gadis itu lebih besar dan... semakin cantik. “Kamu masih menyimpannya?” Kevin menatap mahkota di kepala Nadin.
Nadin hanya menjawabnya dengan senyum manisnya.
Kevin lalu meraih tangan Nadin dan menuntunnya. “Lho, ini kan bukan jalan ke sekolah?” tanya Nadin saat mereka berjalan ke arah sebaliknya.
“Memang tadi aku bilang mau ngajak kamu ke sekolah ya?” Kevin tersenyum misterius.
Kebingungan Nadin terjawab saat mereka tiba di bukit kecil tempat dulu dia dan Kevin biasa bermain. Selama ini mereka tidak pernah ke sini lagi sejak usia mereka menginjak belassan tahun. Dan kini Kevin membangkitkan kenangan masa lalu itu.
“Tempat ini masih cantik ya,” gumam Nadin takjub.
“Nggak,” jawab Kevin. “ada yang lebih cantik dari ini,” Kevin memandang lekat ke mata Nadin yang memantulkan cahaya bulan.
“Will you dancing with me, Princess?”

Cerpen Romantis ( KENANG-KENANGAN DIKALA HUJAN)

Dalam keheningan malam,aku terdiam membisu,teringat aku akan kenangan dua tahun  lalu, saat kita masih bersama terbius dalam lakon kisah klasik masa remaja yang indah.

Entahlah apa yang terjadi, tiap kali aku melihat bintang, aku seperti melihat pancaran sinar matamu yang berhasil menggodaku terjebak dalam kesalahan termanis. Yah! Mencintaimu adalah kesalahan bagiku, namun mencintaimu adalah dosa terindah yang pernah kuperbuat.

Entah apa yang ada dalam pikiranku, tiap kali kumelihat sinar matamu, maka tiap kali juga aku melihat fatamorgana surga yang sebenarnya adalah neraka.
“Tidak ini tidak boleh terjadi”,bisik malaikat dalam hati yang mencoba menyadarkanku Aku sendiri yang telah membuat keadaan seperti ini. Aku sendiri yang telah menjodohkanmu dengan sahabatku. Hingga akhirnya misi ini berhasil, tiba-tiba kau datang padaku dengan mengucap kata cinta yang berhasil membuatku melayang tinggi. Higga akhirnya aku sadar dan terjatuh kembali.

Seharusnya kata cinta itu bukan buatku, seharusnya kau ucap itu untuk sahabatku. Yah, untuk sahabatku, Maya. Dia lebih berhak, Pengorbanannya untukmu lebih besar, bahkan mungkin dialah yang lebih bisa membuat harimu lebih berwarna dengan kehangatan dan kelembutan yang dia miliki. Kenapa kau ucapkan kata itu untukku? Tak sepantasnya aku mendengar kata cinta itu darimu.“Nur,kenapa kau diam?Kau tak suka denganku. Aku tahu kau selalu berusaha mendekatkanku dengan sahabatmu itu, tapi Nur, bukan dia yang aku mau”,tuturnya penuh dengan kelembutan.
“Kenapa,?”tanyaku mencoba mencari tahu alasannya.
“Kenapa kau bilang? Bukannya dari dulu kita sudah saling mengenal. Aku lebih mengenalmu daripada Maya dan aku lebih suka kepribadianmu daripada Maya. Sebelum kau mempertemukanku dengan Maya, aku sudah jatuh hati padamu Nur,hingga akhirnya kau mencoba untuk mendekatkanku dengan Maya. Aku pikir jika aku dekat dengan Maya, aku akan memiliki banyak kesempatan untuk melihat senyummu bahkan membuatmu jatuh hati.

Tapi sayang sekali, dugaanku ternyata salah, tak sedikitpun kau menoleh padaku. Bahkan kau selalu berusaha membuat waktu agar aku dan Maya bisa jalan berdua..” Mendengar kata-kata emosional dari Ardian, lelaki yang berusaha aku jodohkan dengan sahabatku Maya membuatku terdiam seribu bahasa. Tak sepatah katapun bisa aku lontarkan untuk membalas pernyataan yang berhasil membuatku kalah telak. “Kenapa kau lagi-lagi diam Nur, ayo jawab pertanyaanku Nur. Kenapa kau hanya diam Nur? Padahal kau tak pernah kalah dalam adu argumen, kau paling jago Nur kalau adu argumen. Tapi kenapa kali ini kau hanya diam? Ah! Mungkin kau benar-benar tak pernah menganggapku, ya sudahlah kalau begitu.” Ardian berlalu pergi sambil meninggalkan penyesalan dalam hati.

Andai saja kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Andai saja kau ucapkan kata cinta itu dari dulu, sebelum Maya memintaku untuk menjadi perantara agar bisa dekat denganmu. Aku tak mungkin katakan yang sebenarnya . Pengorbanan Maya untukmu lebih besar daripada aku. Bahkan cinta Maya untukmu juga lebih besar. Sementara aku, aku tak pernah berbuat sedikitpun untuk menunjukan rasa sayang padamu. Lagipula, aku tak mungkin menghancurkan perasaan sahabatku sendiri. Aku yang telah membuat kalian lebih dekat. Hingga sahabatku Maya jatuh amat dalam pada perasaan cinta dan sayang untukmu Ardian. Seandainya aku bisa katakan semua ini dihadapanmu. Seandainya kau bisa mendengar langsung kenyataan ini. Kali ini, aku hanya bisa mengatakan kenyataan ini di bawah derasnya hujan agar kau tak bisa mendengarnya. Biarlah gemuruh petir dan derasnya hujan yang mendengarnya karena aku tak ingin melukai kalian. Aku tahu kau pasti bahagia dengannya. Aku yakin Maya pasti bisa memberikan kebahagiaan dan warna yang cerah dalam harimu. Aku yakin itu.

Cerpen Romantis ( INGIN KAMU)

semenjak itu aku tlah lama mengambil cara yang hebat untuk mengelola arti keinginan memiliki .
tetap sayang dan tidak akan pernah hilang sedikit pun .
entah mengapa perasaan ini semestinya hadir selalu dihatimu , mengapa harus aku yang memulai .
aku disini menunggumu ... dengan sebutan namamu ...
sadarku !! kau lah orang terpenting dalam hidupku ... kurindukanmu !
mencari kesadaran dalam ketulusan cintamu , membuatku yakin dan berniat tuk selamanya bersama .
tercipta kata "tak ingin jauh darimu" namun mengapa terkadang kau memutar bait sebuah kata .
ku tak pernah mengekang untuk memberikan waktu untuk kau pergi.
bukan aku tak mengizinkanmu dekatinya .
hanya saja perasaan ku seperti rumus yang sulit menebak dirimu .!!
 pagi itu pun aku menelusuri dimanakah dirimu berada ?? dengan siapa ?? sedang berbuat apa?? resahku memikirkanmu .
kuciptakan bait puisi , cerpen , lagu berkisah antara kau dan aku.
YA ALLAH S.W.T didiklah cinta karena mu ini , berikan keromantisan dan kehangatan juga ketentraman hati yang membuat spirit dalam hidup ini amin ,,, karena kau lah pemilik cinta jagalah cinta kita

Cerpen Romantis ( ILALANG SENJA)

Senja ini sangat sepi. Mentaripun akan kembali ke peraduannya. Tampaklah ilalang yang indah bergoyang disiul angin.
"Sendiri saja dek Kinan ?".

Ucapan Alfa mengagetkan seketika lamunan Kinanti yang asyik memandangi matahari terbenam.
"Kak Alfa ?!"

Kinanti tersenyum membalikkan badan kepada Alfa yang telah berdiri di belakangnya.
"Sudah lama berdiri disitu Kak ?".
"Aku baru saja tiba dek. Kelihatannya lagi asyik nih".

Ungkap Alfa sedikit menggoda.
"Ayo duduk Kak."
Kinanti bergeser dari posisinya.
"Inilah kebiasaan aku Kak. Aku sering duduk sendiri disini hanya untuk melihat matahari terbenam".
Alfa menatap Kinanti dan duduk disampingnya.
"Tuh lihat indah banget kan Kak ?".

Ujar Kinanti kemudian sambil menunjukkan matahari yang sudah berwarna  orange akan tenggelam.
"Iya. Indah banget. Dek Kinan gak ikut ayah ke Bandung ?".
Tanya Alfa sambil menggoyang-goyangkan ilalang disampingnya.
"Ayah kan mau kerja Kak di bandung, masak aku ikut. Nah kalau untuk bertamasya aku pasti ikut".
Jawab Kinanti lembut.
"Aku punya tempat yang indah yang ingin aku tunjukkan padamu. Itupun kalau Dek Kinan gak merasa keberatan aku ajak kesana".
"Dimana itu Kak ?"
"Rahasia dong. Kalau dek Kinan bersedia, aku antar deh kesana."
Gumam Alfa.
"Gimana setuju nggak ?".

Lanjut Alfa.Kinanti yang sedari tadi terus memandangi matahari terbit, pandangannya beralih menuju Alfa sesosok lelaki yang selalu menemaninya di kala masih kecil hingga saat ini.
"Oke. Aku setuju".
Kinantipun bangkit dari tempat duduknya dan mengangkat genggaman tangannya.
"Yuk.. Kita pergi sekarang".
Ujar Alfa menggenggam tangan Kinanti dan mengajaknya pergi menaiki sepeda mustangnya". Mereka tampak menikmati suasana sore kala itu. Alfa terus menggoes sepedanya sedangkan Kinanti asyik bernyanyi di boncengan Alfa.
"Jangan lagu itu dong dek. bosan dengernya, yang ceria dong lagunya".
Protes Alfa begitu mendengar Kinanti menyanyikan lagu Opick(Tombo Ati).
"Kak Alfa suka lagu apa ? Biar aku nyanyiin sekalian".
Ucap Kinanti di belakang.
"Gimana kalo lagu D'masiv ?" tawar Alfa yang kemudian membunyikan klakson sepedanya begitu ada orang yang menyapa mereka di tengah perjalanan.
"Kriiing...".
Begitulah suara klakson sepedanya. Maklumlah sepeda jaman dahulu kala.
"Kak Alfa suka musik pop ya ?. Gimana kalau aku nyanyiin lagu Ungu saja Kak !".
"Pas banget. Dek Kinan juga suka lagu itu ya ?".
Tanya Alfa tersenyum saat didengarnya Kinanti mulai bernyanyi. Menyanyikan lagu Ungu (Cinta Dalam Hati).Alfa membelokkan sepedanya ke arah dimana danau mini berada.
"Sudah sampai dek".
Ucap Alfa memberhentikan sepedanya. Keringat telah membasahi sebagian tubuhnya.
"Inilah tempat yang ingin aku tunjukkan padamu dek".
Ujar Alfa tersenyum  bahagia."Mana sawerannya Mas ?".
Seru Kinanti mengangkat kedua telapak tangannya di depan Alfa.
"Haha... Kamu itu lucu juga ya dek".
Alfa mengusut-ngusut rambut Kinanti.Kinantipun mambalas senyuman hangat Alfa.
"Ini tempatnya Kak ?"
Tanya Kinanti dengan raut wajah tak suka.
"Kok cemberut. Tempatnya jelek ya ? dek Kinan gak suka ya ?".
Ungkap Alfa yang mengelapi keringat di wajahnya.Kinanti memutar-mutar bola matanya dan memainkan bibirnya.
"Kok gitu dek ?".
Alfa sepertinya mulai resah karena Kinanti tidak menyukkai tempat yang dianggapnya indah itu.
"Hmmm...".
Kinanti menarik nafasnya dan segera menghembuskannya.
"Ya sudah kalo dek Kinan gak suka. Aku tunjukin tempat yang lain yang gak kalah indahnya, gimana ?".
Alfa menawarkan opsi lain.
"Siapa bilang gak suka... Aku tuh nyaman lagi kak disini. Makasih ya sudah ngajak aku kesini".
Kinanti berlari menuju tepi danau dan menainkan sedikit air danaunya.
"Sekarang kamu sudah pandai menjahili aku ya dek".
Ungkap Alfa yang kemudian mengejar Kinanti.Mereka berbasah-basahan bermain air, padahal hari sudah semakin larut. bak anak kecil saja mereka. Sangat bahagia begitu melihat air dan bermain-main bersamanya.Sepuluh menit kemudian terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Alfa dan Kinantipun mengakhiri permainannya dan kembali menaiki sepeda Alfa untuk segera pulang dan membersihkan tubuh mereka. *****
"Kinan... kamu kemana saja ? kemarin sore aku main ke rumahmu tapi kamunya gak ada. Aku mencarimu ke tempat biasa pun gak ada. Kemana sih kamu ?".
Gerutu Isna.
"Kemarin tuh emang bener aku lagi di tempat biasa tapi begitu ada kak Alfa, diajaknyalah aku ke suatu tempat".
Jawab Kinanti."Kemana Nan ? asyik nih diajak main bareng kak Alfa. wiiit...wiiiiww...".
Ungkap Isna bersemangat dan bersiul-siul bagitu mendengar nama Alfa.
"Apaan sih kamu.. emang dari dulu aku sudah temenan sama kak Alfa, so gak ada yang aneh dong". Jelas Kinanti.
"Hehe.. iya,, aku lupa". Ucap Isni cengengesan.
"Oh ya, Nan. si Andri juga nyariin kamu terus tuh dari kemarin. serem aku ngelihatnya. udah kayak berandalan aja sekarang gayanya".
"Ngapain dia nyari aku ? aku juga takut dengan dia Is".
"Ya sudah. kamu jadian aja sama Kak Alfa. sebelum si Andri ngajak kamu nikah".
"APA ?! NIKAH ?". kamu jangan sembarangan gitu dong Is sama aku. lagian mana mungkin coba, aku kan gak pernah ngasih dia peluang".

Cerpen Romantis ( HADIRMU ADALAH KETERKEJUTANKU)

Awal aku berkenalan denganmu saat itu aku sedang memasuki tahun kedua dan baru saja beberapa bulan putus dari mantan pacarku yang – kalau tidak salah ingat – hanya berumur empat bulan. Dengan alasan yang sepele dan tidak logis aku memutuskan hubungan itu. Entahlah, mungkin saat itu aku sedang mangkat-mangkatnya dengan segala kesempurnaan yang aku punya sehingga meremehkan hubungan yang ada.

Sebagai pihak yang memutuskan memang aku tidak tahu bagaimana rasanya berada di pihak yang diputuskan; bagaimana rasanya ingin selalu tetap bersama orang yang disayangi; bagaimana rasa sakitnya menerima keputusan dari orang yang disayang. Kuakui saat itu memang egois. Sebenarnya diriku sendiri jauh dari kata ‘sempurna’ seperti orang-orang yang memang mendapatkan predikat itu. Sempurna yang aku maksud di sini adalah aku dengan lingkungan sosialku; aku dengan kegiatan perkuliahanku; aku dengan segala aktivitasku; aku dengan adrenalin yang memompaku untuk terus menerus bergerak. Aku yang cukup mandiri dan tak mau ditentang; aku yang selalu benar dan tidak mau disanggah. Tak ayal kehidupanku dengan lawan jenis pun juga sedang gencar-gencarnya. Keakuan dan darah mudaku. Ya itulah aku. Tapi itu dulu sebelum bertemu seseorang yang mengajarkanku tentang kehidupan yang sebenarnya. Perubahan drastis yang benar-benar berbeda antara aku dulu dan sekarang. Satu kalimat bijak yang selalu kuyakini,
“Suatu akhir merupakan sebuah awal perjalanan baru”.

Aku cukup ingat bagaimana kita berkenalan, mungkin bisa dikatakan agak sedikit aneh. Perkenalan itu terjadi melalui pesan singkat yang masuk di kotak masuk telepon selulerku (ponsel). Tanpa basa basi kamu langsung mengajakku berkenalan dengan menyebutkan nama, umur dan tempat tinggalmu. Hanya keterkejutan yang aku dapatkan. Keterkejutan itu diantaranya adalah pertanyaan-pertanyaan tentang kamu dapat dan tahu dari mana nomor ponselku, karena selama aku punya ponsel beserta nomornya, aku tidak pernah menggunakan untuk hal-hal yang kuanggap norak atau kampungan seperti kenalan. Keterkejutan yang dibarengi dengan keanehan. Tapi sudahlah, seandainya saat itu aku tidak menanggapimu, aku tidak akan benar-benar bisa belajar tentang arti hidup sebenarnya; tentang kehidupan cinta khususnya.

Perkenalan dan keanehan pun berlanjut, hingga akhirnya kamu intens menghubungiku dan juga sebaliknya. Dengan kesadaran tinggi bahwa perkenalan kita yang cukup aneh tapi tetap saja komunikasi dilakukan. Kita yang berbeda hampir 12 tahun dari usia masing-masing pun tidak jadi penghalang dalam komunikasi, karena memang bukan itu alasanku untuk mempunyai banyak teman. Kamu yang begitu mempunyai wawasan luas; kamu yang tidak membosankan ketika berdiskusi; kamu yang menyenangkan dalam batasan candamu. Kamu yang bisa mengontrolku tanpa harus mengekang; kamu yang bisa diandalkan dalam menyelesaikan masalah dan memberikan solusi melalui beberapa pilihan tanpa memaksakan kehendak. Kamu yang selalu bisa membuatku terkagum-kagum dengan pembawaan apa adanya. Aku seakan menajadi salah satu fans berat kamu saat itu.

Semua hanya masalah waktu. Tibalah saat itu, untuk pertama kalinya kita bertemu. Janji temu yang dilakukan ditempatmu, daerah Jakarta Selatan bersebrangan dengan Taman Makam Pahlawan. Rumah dengan beberapa kamar kost, satu dapur dan halaman yang agak luas, cukup untuk memarkir beberapa kendaraan di sana. Kostanmu dengan kamarnya berukuran 5 x 6 meter dan dilengkapi tempat tidur yang cukup untuk satu orang serta televisi 14 inch, kipas angin, sebuah kulkas, lemari pakaian dan beberapa perlengkapan lainnya. Untuk pertama kalinya juga aku melihat penampakanmu yang menjemputku tepat dimana kita janjian untuk bertemu di depan Taman Makam Pahlawan. Kamu yang saat itu hanya mengenakan kaos dalaman putih dan bercelana pendek dengan postur tubuh yang lebih tinggi sedikit dari aku, berkulit putih bila dibandingkan denganku, berperawakan tegas dan terlihat santun. Sejjurnya saat itu juga yang ada dibenakku adalah apa yang aku lakukan hingga bisa mendatangi dan menyetujui janji temu ini? Pikiran bodoh yang selalu timbul di saat-saat terkahir setelah kejadian.

Perasaanku saat bertemu dengan kamu bagaikan seorang peserta yang sedang mengikuti acara disalah satu televise dimana peserta diminta untuk membuktikan apakah terdapat makhluk lain selain manusia di sebuah tempat menyeramkan dan hanya ditemani sebuah lilin. Iya, seperti itulah perasaanku. Asing karena berada di tempat kamu, ketar ketir karena mungkin saja aku berkenalan dengan seorang psikopat. Namun dilain hal niat baikkulah yang menenangkanku dan biasanya memang benar, apa yang kita niatkan di awal tentang kebaikan maka akan berakhir baik pula.

Lucu sekali bila kuingat momen pertemuan itu. Semua cara dan pembawaanmu yang tidak jauh berbeda seperti saat di telepon atau pesan singkat. Sejam, dua jam hingga aku tersadar matahari pun sudah mulai akan berpamitan kepada dunia. Kebersamaanku denganmu pun harus disudahi. Apakah aku mulai nyaman berada deketmu? Sampai sanggup berlama-lama dan tak sadar akan waktu. Atau mungkin waktu yang terlalu berjalan sangat cepat? Sampai-sampai aku tak sempat merasakan detiknya.

Baru saja kuberdiri untuk berpamitan, tiba-tiba tanganku menyambar tanganku dan mata kita sudah bertatapan tajam satu sama lain. Lalu dengan nada suara yang serius kamu mulai berkata, “Dari awal kita berkenalan dengan ketidaksopananku dan di sana ada proses aku mengenalmu aku merasakan hal yang berbeda yang aku sendiri sulit untuk menjelaskannya, entah apa itu, saat ini mungkin adalah waktu yang tepat bahwaku benar-benar sayang kamu dan aku mau jadi lelakimu untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Kamu mau terima aku?”. Layaknya seseorang yang sedang ditantang untuk menaiki bungy jumping. Jantung kamu terpacu kencang mulai dari saat menaiki kereta (lift) menuju ke atas untuk sampai di tempat yang tingginya hampir 200 meter dari tanah dan petualangan tidak berhenti di situ. Setelah sampai di atas kamu akan di ikat kakinya dengan pegas berukuran besar dan lompatlah kamu. Itulah yang dapat aku gambarkan ketika menerima ucapannya. Ucapan yang tidak pernah ada dalam pikiranku bahkan tidak pernah kuprediksikan sebelumnya. Dan aku hanya meresponya, “Beri aku waktu untuk menjawab. Aku janji secepatnya aku akan kabari kamu.” Kemudian kamu pun mengantar dan menungguiku sampai naik angkutan umum dengan nomor yang sama yang membawaku ke tempatmu tadi.

Dua hari, iya, dua hari cukup bagiku untuk memastikan tentang perasaanku padamu. Aku semangat sekali hari itu. Dan kamu pun tak henti-hentinya menjalan komunikasi yang lebih intens lagi dari sebelumnya, mulai dari kemarin lusa pada saat di jalan menuju rumah hingga sampai di rumah. Serta seharian lalu. Menyenangkan rasanya. Aku meminta kamu untuk dating ke rumahku. Rumahku yang letaknya di Tangerang dekat dengan Sekolah Tinggi Adminitrasi Negara; rumahku yang ditinggali orang-orang tersayang dan mungkin saja kamu akan menjadi bagian dari orang-orang tersayang itu. Itu cuma kemungkinan kecil saja. Mendekati waktu isya, kamu sudah sampai dirumahku; bertamu. Aku sudah bisa mengetahui apa yang kamu rasakan saat itu. Persis seperti saat aku pertama kali dating ketempatmu. Luar biasa deg-degan bukan?

Satu persatu kuperkenalkan anggota keluargaku. Sehauh yang kulihat tanggapan mereka positif mengenaimu. Sejauh itu pula aku melihat bentuk mukamu yang gelisah dan tak sabar untuk tahu tentang jawabanku atas pertanyaanmu kemarin lusa. Waktu bertamu pun usai. Kamu makin kelihatan putus asa dan tak bersemangat. Pembicaraan seperti terpaksa. Di penghujung malam itu aku sembari menemanimu yang pamit pulang kuantar hingga depan pagar rumah. Dan sebelum kamu mengucapkan sesuatu, yang mungkin ucapan untuk berpamitan pulang, aku secara reflex menggapai tanganmu seperti yang kamu lakukan dulu, lalu.. “Aku mau kamu menjadi lelakiku. Aku mau kit apunya hubungan yang serius. Hanya aku dan kamu.”. Kamu tahu? Rona wajahmu langsung berubah mirip orang yang mendapatkan hadiah lotere dengan kesetiaan menunggu yang luar biasa. Tidak dapat dipungkiri bahwaku juga merasakan hal yang sama. Lalu dengan rasa sayang dan lembut kecupan bibirmu sudah ada di keningku. Dan malam itu akan menjadi malam yang bersejarah yang selalu akan kita ingat ditemani dengan cerahnya bulan dan bintang serta sebuah saksi bisu yaitu pagar rumahku. Keyakinan akan tertidur lelap dan bermimpi tentang kita sudah dapat dipastikan akan terjadi.

Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tak terasa sudah hamper dua tahun kita menjalani hubungan ini. Tahun pertama di hari jadi kita, kamu menghadiahi aku sebuah kamera digital dan foto kita saat kencan pertama di sebuah restoran yang secara diam-diam entah siapa yang mengambil gambar itu. Tahun kedua kamu memberikan kejutan lain, kamu memberikan sepasang cicin yang di dalam lingkarannya terdapat inisial aku dan kamu. Dengan tulus kamu mengatakan bahwa ingin mempunyai hubungan ke tahap selanjutnya yang lebih serius. Kamu selalu punya cara meberikan kejutan-kejutan dalam hubungan ini. Kespontanitasan kamu yang membuatku menilai bahwa ku tak pernah salah menerimamu sebagai lelakiku saat itu.

Kedekatanmu dengan keluargaku semakin membulatkan keyakinanku bahwa kamulah orangnya. Kamu yang tanpa kuketahui ternyata punya keahlian memasak ketika kumain ke kostanmu. Itu membuatku terkejut. Kamu yang tiba-tiba dating ke tempat perkuliahanku hanya untuk makan siang bersama-sama. Itu membuatku terkejut. Kamu yang ketika itu mengetahui aku kurang sehat dengan rela menemani dan setia merawatku meskipun aku pasti akan sehat lagi. Itu membuatku terkejut. Kamu yang ternyata juga banyak kesamaan dalam hal musik, tontonan dan tak pernah mengeluh ketika ku ajak belanja-belanja. Sampai-sampai kita punya lagu untuk kita. Segalanya tetap membuatku terkejut.

Luar bisanya kesabaran yang kamu punya dalam menanganiku adalah hal terbesar mengapa aku di sini bersamamu; mengapa hubungan ini tetap bertahan. Ada kamu, aku ada. Mirip salah satu judul film Indonesia. Tapi memang benar adanya. Aku mungkin bukan siapa-siapa tanpa kamu; aku mungkin tidak akan menemukan jati diri tanpa kamu.

Banyak hal sudah kita lalui selama dua tahun hubungan yang kita jalin. Sekarang memasuki tahun ketiga aku masih tak punya ide apa yang kamu lakukan di hari jadi kita nanti. Impianku hanya satu dan tidak terlalu muluk. Aku ingin kamu terus ada disampingku dan terus menjadi lelakiku yang apa adanya kukenal awal lalu. Dan semoga hubungan yang kita jalin ini selalu dberkahi. Itu saja tidak lebih.

Terlalu banyak makna cinta dari tokoh-tokoh terkenal atau bahkan orang-orang awa, dengan versinya masing-masing. Sedangkan aku sendiri punya makna tentang cinta dari dulu hingga sekarang. Cinta adalah ‘saling’. Makna yang menggantung dan plural. Makna yang aku berikan pada cinta tidak melulu tentang hal-hal positif. ‘Saling’ disini adalah saling mengerti, slaing dukung, saling menghargai, saling percaya, saling sayang, saling melindungi, saling kecewa, saling berbohong, slaing menyakiti dan masih banyak lagi lainnya. Terlepas dari itu semua, aku hanya inginkan kamu di hidupku dan terus mengajariku tentang banyak hal.

Cerpen Romantis ( DIBAWAH SENYUMAN HUJAN)

Waahh...ternyata aku terlalu asyik mengerjakan beberapa kerjaan kantorku, sampai-sampai aku tidak sadar kalau diluar sana telah turun hujan deras. Ups!! spontan aku melongo kearah luar , ku hentikan jari-jariku yang dari tadi sibuk memencet-mencet tombol komputerku. Dan mulailah kedua tanganku menopang daguku. Ku lihatin air hujan yang terus menerus turun dari langit itu...dan ku resapi setiap detakan suara yang keluar dari hujan itu. Subhanallah.... suara hujan itu menenangkan fikiranku.  Dan masih dalam tatapan kagumku.... aku tersenyum tersipu malu, tiba -tiba saja hatiku berujar...aahhh....hujan itu telah mengingatkanku tentang perjalanan kasih aku dan dia. Waktu itu.... tepatnya hari weekend, kami berdua menyempatkan diri untuk berjalan-jalan walau hanya sekedar reflesing alias cuci mata. Tanpa terasa waktu terus berlalu dan mengharuskan kami untuk segera pulang. Taaapiii.... setibanya kami didepan pintu keluar, eehh...ternyata diluar hujan deras.

Kami pun saling berpandangan seolah-olah mata kami saling memberikan isyarat,
"o..o..hujan...kayak mana kita mau pulang yach..??".
Dengan sabar kami pun menunggu hujan itu reda sambil bercerita hal-hal yang lucu. Akhirnya hujan pun reda juga, dan kami segera beranjak dari tempat itu dan kembali pulang. Selang beberapa hari kemudian setiap kali kami jalan berdua..selalu saja hujan turun, bahkan saat kami berada tepat ditengah jalan yang kami lalui. Mau tidak mau akhirnya kami pun kebasahan. Ternyata aku maupun dia, kami sama-sama menyimpan pertanyaan yang sama pula,
"kenapa yach...setiap kita jalan berdua... pasti selalu saja turun hujan".
Sampailah pada suatu hari, dimana dia akan melaksanakan sidang skripsinya, dia memintaku datang untuk melihat dan memberi semangat padanya. Waktu itu hari begitu terik, seakan-akan matahari tepat berada diatas kepalaku. Dengan langkah cepat aku pergi kekampusnya berharap aku tidak ketinggalan melihatnya mepresentasikan skripsinya. Sampailah aku disana, dengan tersenyum kecil aku menoleh kearahnya berisyarat....
"ayo cynk..semangat...kamu pasti bisa".
Tak terasa hari semakin sore, namun kegiatan itu belum juga berakhir bahkan akan disambung lagi setelah magrib. Entah kenapa... mataku ingin menatap langit sore itu. Waaahh...ternyata langit sudah mendung, hhhmm...sepertinya akan turun hujan lagi, fikirku". Bergegas ku menghampirinya dan berkata,
"masih lama lagi yach cynk???sepertinya bakalan hujan lagi hari ini, dan bisa-bisa kita kehujanan lagi pulangnya".
Dia justru membalas dengan senyuman genit, dan malah menggoda ku dengan kata-kat,
"tenang cyg..kan ada payung cinta kita, hhmm..tapi suka kan kalau hujan-hujan..biar bisa sekalian mandi hujan, iya kan???".

Spontan saja wajahku memerah kayak tomat. Magrib pun selesai dan kegiatan dilanjutkan kembali. Satu persatu pesertanya maju dan akhirnya selesai juga. Taaapii...tiba-tiba terdengar suara gemuruh, tak lama kemudian suara hujan menyusul. Semua orang yang ada disana pada mengomel-ngomel sendiri karena hujan turun disaat semuanya hendak pulang kerumah masing-masing. Tuh kan...beneran turun lagi hujannya, gumamku. Yaahh...sekali lagi mau tak mau kami pun menunggu hujan itu reda. Satu jam, dua jam, dan tiga jam berlalu, hujan itu belum juga reda, sementara malam semakin larut. Akhirnya kami sepakat untuk tetap pulang dengan menerobos hujan itu. kami berlari meninggalkan kampus itu menuju persimpangan untuk menunggu angkot yang akan kami naiki (maklum..saat itu kami belum punya kereta...hihihi).

Baju kami basah, badanku mulai menggigil, dan dingin semakin mencekam. Lama kami menunggu, belum juga ada angkot yang lewat. Hujan pun semakin deras, kami berdiri merapat, dengan jaket yang basah dia tetap memberi alas kepalaku, dan dia merangkulku hangat. Saat itu yang bisa kami lakukan hanya senyum-senyum, tertawa-tawa, dan sesekali saling mengejek. Sesaat kami terdiam dibawah senyuman hujan, menghitung berapa kali kami sering kehujanan. Tiba-tiba saja dia tertawa kecil, samar-samar ku dengar dia berucap "UTJAN".

Aku memandanginya lalu bertanya apa artinya. Kemudian dia menjelaskan, UTJAN itu adalah HUJAN. Karena kita berdua sering kehujanan, jadi nama itu saya hadiahkan untuk cyg. Berharap saat memanggil nama itu, semua kenangan harini tidak pernah terlupakan, saat kita berdiri kedinginan dibawah senyuman hujan serta terciptanya nama UTJAN. Angkot yang kami tunggu pun akhirnya datang, dan kami segera pulang.

Cerpen Romantis ( AKU DAN WARNA )

Ada warna di bagian kelam hatimu, Logika sekali kadang warna bisa  mengubah kita menjadi bukan diri kita sendiri, warna indahnya tiada nilai. Karena warna kota tak akan pernah mati suri, dan seperti wanita yang suka menggunakan warna untuk menutupi kebohongan fisiknya seperti pria yang suka menjadikan warna untuk mengawali satu penipuan untuk pasangan hidupnya, kadang warna bisa dipadu menjadi apa saja, Namun warna juga lah yang sekarang membuat hari-hari menjadi sangat berbeda.”Bukan ini yang aku minta dari hubungan ini, terpenjara dalam ruang sepi dan harus terharu jika melihat orang lain berbahagia dalam indahnya regukan rasa.
Kita memang berada di dunia yang berbeda. Namun aku selalu memperhatikan mu, dari bangun mu hingga tidurmu bahkan saat malam aku masih terus menjagamu, apakah kau pernah merasakanya?..Tapi aku merasakanya, buktinya aku selalu melihat berjuntai air mata yang selalu jatuh berderai disetiap malam panjangmu, lupakan aku dari igauan mimpi burukmu sayang, karena hampir tak pernah lelap tidurmu. Ya….setiap malam. Salahkah jika aku memutuskan mu, karena aku nggak mampu menjaga hubungan indah ini. Plis sayang aku sudah sangat merelakanmu, pergi dan  terbanglah masih banyak pangeran yang ingin merasakan getar hati yang paling dalam di dasar jiwamu, demi Allah aku rela.Sayang……

Pagi ini hari minggu , gerimis dari malam hingga pagi ini nggak mengubah niatmu untuk menuju ke daerah yang kamu anggap adalah tempat paling istimewa untuk melepas rindu. Mungkin niatmu hanya sekedar menjengukku, bertanya kabar, apakah aku baik-baik saja disana atau sekedar melepas rasa sesal karena nggak hadir di acara yang mungkin special untukku., tapi tidak untukmu mu, Namun sebenarnya itu nggak terlalu  penting sayang  jangan berkorban untuk aku, aku yang pernah membuat hidupmu terpuruk dalam kebingungan dan kebimbangan. Aku sadar sekali, sangat sadar, dan aku hanya ingin melihat kamu bahagia sebelum aku menerima karma atas semua yang aku perbuat sebelumnya…Mmmm…..kamu biarkan baju yang kamu pakai basah karena rintik itu , baju yang  serba hitam dengan tudung rambut yang sepertinya aku mengenalnya. Ya….kalau nggak salah aku yang memberinya di ulang tahun hubungan kita dulu yang kita jalani selama 2 tahun. Kamu memang sangat cantik kenapa aku melepaskan mu, seharusnya engkau tetap berada disisiku dan kita akan membangun masa depan cinta dengan penuh warna, karena kita memang sudah berikrar setelah aku dan kamu lulus sarjana dan ada pekerjaan mapan yang bisa aku banggakan buat kamu, aku akan mengikatmu dengan dua cincin yang di desaign sama. Khayalan tingkat tinggi ini mengingatkan aku dua bulan yang lalu tlah memutuskan dan membiarkan jiwamu gelandangan mencari kepastian atas cintaku

“Lokasi Taman Merdeka Walk City”
Kamu duduk menunggu kedatanganku, karena melalui pembicaraan tadi malam aku tlah mengundangmu untuk datang disini, seperti biasa taman kota sangat menarik untuk insan-insan yang sedang jatuh cinta. Begitu juga kita yang sering menghabiskan akhir pekan disini, hanya untuk melepas penat karena padatnya waktu kita. Biasanya kita selalu bercengkrama disini sambil memesan gugali warna pink khas wanita kesukaanmu, dengan canda tawa dan sesekali kamu suka mengagetkanku, tapi tidak untuk hari ini.Setelah kedatanganku, aku mengambil jarak duduk denganmu, dengan wajah yang sedikit pucat aku masih mencoba tenang dan mulai kuucapkan kata-kata yang nggak sewajarnya aku lontarkan untuk seseorang se Ayu kamu…

“aku minta kita putus, karena ternyata ada wanita lain yang menarik perhatianku”
Seketika aku melihat raut wajahmu Shock dan aku langsung pergi membiarkanmu dalam sejuta pertanyaan atas keanehan sikap ku. Tapi aku tetap kuat, dengan sombongnya aku berlalu dari kamu, tanpa sedikitpun melihatmu dari belakang. Aku biarkan keegoisanku merajai segalanya .Aku biarkan kamu yang masih terduduk dengan bingungnya di taman itu, ya…..saat itu aku menjadi seorang yang terhebat didunia karena telah berani mengambil keputusan yang salah untuk, aku, kamu, keluargaku, dan keluargamu, tapi ketahuilah sayang sebenarnya jiwaku runtuh sesaat itu juga.
Sampai dirumah bendungan perkasaku jatuh, mengalir dengan derasnya sampai seluruh keluargaku kebingungan karena hilangnya kesadaranku. Ya…..bukanya aku meminta kamu percaya dan menjadikan sebuah  alasan karena aku telah memutuskanmu secara sepihak. tapi aku menanggap inilah yang terbaik untuk kamu aku dan kebersamaman kita nantinya.

“Lokasi Rumah sakit Elissabeth Medan”
Semua sibuk dan kebingungan….buru-buru mama menelpon rumah sakit. Sampai akhirnya Mobil ambulance datang dan  membawa raga ringkihku menuju tempat ini. Ketahuilah sayang ternyata Kangker otak ini nggak bisa di ajak bermain-main senantiasa dan selalu mengambil alih setiap energi dan nutrisi yang masuk dalam tubuhku. Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengobatinya, beragai cara dan upaya sudah dilakukan tanpa bosan.Ya…penyakit ini sebenarnya sudah lama bersemayam di ragaku, kalau nggak salah sejak aku berumur 16 tahun kelas dua es-em-u. Aku berusaha menyembunyikan ini padamu sayang, aku takut kamu gundah, kamu marah, dan kamu malah jauh meninggalkan aku jika kamu tahu tentang ini.keluargaku sibuk menghubungi keluargamu, dan saat itu sebenarnya cemas sudah mulai melanda di sanubari ini, nafasku mulai tersengal-sengal, para dokter juga ikut kebingungan, mau mengoperasi aku secara dadakan atau membiarkan raga ringkihku terbaring lemah tak berdaya. Namun Saat itu juga aku biarkan rilex raga ini aku melihat ada dua mahluk datang menghampiri aku. Sambil memperhatikan sekelilingku, mama, papa, adik kembar kesayanganku yang imut, hingga akhirnya aku mulai mengeja dua kali masyahadat.

Dengan sekali tarikan napas panjang akhirnya aku bisa dengan mudah melepaskan, keluargaku, aku, kamu, motor bebek kesayangan ku, kemeja putih darimu, dan saat itu juga ruangan rumah sakit berisik sekali. Suara tangis menjadi satu, berbaur dan menghasilkan warna baru dalam perjalanan panjangku. Menunggu kepastian dihakimi karena aku berdosa tlah membiarkan peri secantik kamu sendirian di bumi ini. Huh…betapa sunyi disini apalagi tanpa kamu yang selalu mengisi hari-hari ku, membangunkan pagiku, mengingatkan makan malamku, menyembunyikan playstation kesayanganku, dan menemani aku melukis seharian.

“Lokasi Rumah kamu Jl. Setia Budi, Medan
”Kringgggg……..kring………..“hallo, Siapa ni?”
“ini mbak rita kan?. ini Sarah mbak, mama nya ardy, mbak ardy sudah nggak ada mbak sekarang kami ada di rumah sakit Elisabeth, barusan jam 10.00 ardy meninggal. “
“Semuanya kembali menjadi kepingan-kepingan warna, kabur dan hambar nggak ada yang tahu  kalau pelukis alam sedang bingung menggoreskan kanvasnya, gambaran warna yang kontras menjadi kabur, mengecil dan mengilang di tiup angin malam ini”

Huh…warta dari mamaku tadi membangunkan seisi penghuni rumah kamu sayang, di ucap dan ditutur sedemikian rinci kata itu, dan dengan seksama kamu mendengarkannya. Sesaat kamu terdiam dan tanpa menunggu lama persendian penyanggah tubuhmu melemas dan hilang kesadaran mu..Tetap kuat lah sayang aku nggak pernah berpaling dari mu sebenarnya, Kulakukan ini semua semua agar nggak terlalu dalam luka yang tergores di dalamnya hatimu karena kepergianku. Karena setelah kejadian tadi siang mungkin ada sedikit benci di dada yang bisa membuat lupa dengan mudah lenyap. Apa aku salah ?..mungkin aku salah betapa jongkok nya fikirku, ternyata pendidikan tinggi yang ku sandang nggak membuat daya pikirku jadi dewasa. Namun sekali lagi apakah aku salah?...Aku bingung sekali sebelumnya, semuanya berkecamuk menjadi satu, di satu sisi aku nggak ingin melepaskanmu tapi takdir berkata lain yang di atas punya kuasa dari segalanya. Sekuat dan setabah aku menahan ini, tetap jawabanya nggak berhasil, bukan aku nggak percaya kamu, tapi semua ini kusembunyikan darimu karena aku nggak ingin ada air mata di retina coklat milikmu. Cukup aku yang merasakanya. Betapa sakit sekali akhir-akhir sebelum aku mengambil keputusan untuk meninggalkanmu. ***“

Terima kasih atas taburan bunga, dan doa-doa yang kau berikan mudah-mudahan bisa memuluskan dan meringankan langkahku menyebrangi jembatan shirottolmustaqim. Namun aku masih belum sanggup beranjak meninggalkanmu sebelum aku melihat seseorang mengucapkan ijab qabul karena telah meminang wanita setulus kamu, biarkan aku disini, menemanimu di rumah, dimakam, ditaman, dan dimanapun tempat yang bisa mengingatkan aku untuk kamu. Walau kau tak pernah merasaka kehadiranku, tapi setidaknya kamu merasakan betapa dalam cinta ini hingga aku tak sedikitpun membolehkan kau sedih jika mendengar betapa parahnya penyakitku dulu. Aku cinta kamu sayang, lepaskan, dan doakan aku disurga walau sebelumnya aku harus di neraka.“Semuanya sarat dengan warna, hiasan dan lukisan bergabung menaburkan irama sepi, sunyi, mereka semua bercerita tentang aku dan warna.”